Lika-Liku Kora-Kora Di Laut Jawa

Di Pulau Onrust
Yow guys.. Udah lama ga wakcabalaka k kalian. Bercerita tentang hal dari sudut pandang seorang Irma. Mengulas hal tabu menjadi tidak tabu (silet kaliiiiiii).
Ini tentang cerita kemarin, perjalanan rencana praktikum kita ke Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka). Saya tidak akan membahas mengenai teknis kegiatan dan proses tersendatnya praktikum ini. Sudahlah.. yang penting kita sudah niat dan sungguh-sungguh untuk praktikum k sana, tapi takdir sudah menentukan lain. Allah SWT yang memutuskan dan kita tidak bisa menyalahkan alam dan siapa pun itu. Susah senang bersama kalian IP'07 terutama kalian balad ranger :)
Gimana rasanya mandi jam setengah satu subuh terus jalan dari Gang Mawar (kostn Dini) sampai ke Pangdam bertiga bareng Dini sama Leo? Amazing kan? mungkin teman-teman IP yang lain pun melakukan hal seperti kami. Tapi ini adalah perjuangan dan dibagian seperti inilah tersimpan kenangan :)
Sampai di Muara Angke yang suasananya seperti Muara Bangke. Hehe.. Mulai agak takut karena air laut sedang pasang, tapi sudahlah lanjutkan saja! Perjuangan belum berakhir. Naik kapal yang lebih bagus dari saat pulang survey dari Pulau Pramuka sebelumnya membuat saya secara pribadi lebih tenang dan rileks. Pikirannya adalah naik kapal kecil yang lumayan waktu itu aja selamat sentausa dan santai apalagi ini, kapalnya lumayan besar, dikasih pelampung juga jadi tenang-tenang saja :D
Beberapa menit awal guncangan kapal terasa seperti biasa, karena seperti pengalaman waktu itu pun guncangan kapal layaknya naik mobil pas lewat polisi tidur. Tapi karena situasi di dalam kapal yang agak panas karena udara dari jendela di tutup dengan alasan air ombak akan masuk k kapal. Mulailah beberapa saat kemudian korban muntah (utah uger) berjatuhan. Yang fantastik itu adalah ketika Dini mojang Subang yang kekuatannya saya tau secara fisik itu mangtap muntah-muntah. Wow.. kaget juga, maaf tidak membantu karena pada saat itu pun rasa mual sudah mulai terasa. Sugesti mungkin y? Karena liat banyak temen-temen muntah-muntah jadi mual. Dan terjangan ombaknya pun keras, bikin hati enyep-enyep. Melebihi kora-kora yang ada di Dufan. 2 tablet antimo sedikit membantu. Alhamdulillah tidak ikut-ikutan tepar juga. Untuk Teh Erny makasi buat lututnya sudah mau saya jadikan pegangan dan sasampaian ketika jalannya kapal sudah mulai seperti kora-kora dan terima kasih juga buat tasnya Adi yang saya pegang, entah kenapa megang tas? Pengaruhnya apa ya? Hahahaha.. Jadi tangan kanan megang lutut orang, yang kiri megang tas orang. Baru nyadar klo itu konyol!
Antimo dan tolak angin pun laris manis. Melihat Leo yang agak tegang tapi mantap duduk di depan saya (agak jauh sih) begitu pun demikian dengan F yang tidur sambil ditutup mukanya dengan sehelai selendeng biru. Yang kurang itu tidak ada Gie, karena dia beda kloter keberangkatan Jemaah. Ampun lah itu mah naik kapal sangat mual dan pusing. Tapi anehnya teman-teman yang duduk dan berdiri di belakang maupun di depan (dekat nahkoda) seperti santai meskipun bergelantungan. Apa karena ada angin ya?? Sugesti lagi. Meskipun pakai pelampung tapi kan gimana klo bener-bener kebalik tu kapal? Apakah sudah diasuransikan keselamatan saya? Klo ketemu hiu bagaimana? Berenang pun tidak bisa, apalagi ini di laut mament. Soalnya feelnya sudah beda, ini laut lagi pasang, kecepatan angin aja sampe 24 knot (melebihi rata-rata bgt), dan ombaknya tinggi. Lahaulawalaquwwataillabillah saja saya mah..
Setengah jam perjalanan menuju Pulau Pramuka pun dihentikan. Kami merapat ke sebuah pulau yaitu Pulau Onrust! Pulau yang dulunya jadi tempat transit keberangkatan Jemaah Haji. Bayangin aja mament orang jaman dulu naek kapal laut buat k Mekkah? Berapa bulan mereka merasakan goncangan ombak? Kita aja yanng setengah jam sudah menggelepar. Hehe.. Beda situasinya kali ya. Selain itu Pulau Onrust bukan pulau yang dihuni oleh banyak penduduk. Yang ada selama mata memandang adalah batu-batu prasasti peninggalan jaman Belanda, karena Pulau ini pun menjadi tempat orang Belanda dulu (klo ga salah ada bentengnya). Oiya, di bagian lain di Pulau ini pun ada makam dari pimpinan DI/TII yang dimakamkan di sana. Tapi karena posisinya dekat laut maka saat pasang seperi itu makamnya terendam air. Mengerikan juga sih.
Hampir 4 jam kami terdampar di Pulau Onrust. Lagu "Rumah Kita-God Bless" jadi soundtrack yang pas ketika itu. "Lebih baik di sini (di darat bukan pulau) rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada disini." Tiba-tiba saja merindukan suasana Bandung yang lengkap, tidak seperti di Pulau Onrust yang makan mie rebus pke telor dan air teh hangat aja Rp. 11.000,-. Mahal diongkos distribusi bahan baku dari Jakarta ke Pulaunya sih. Kasian juga ya orang pulau. Cukup sudah jadi Tom Hanks saat di Cast Away-nya. kami ditarik kembali ke Muara Angke dengan beberapa alasan. Rasa hati ingin tetap meneruskan perjalanan sampai Pulau Pramuka, tapi mungkin ini yang terbaik. Ikut komando saja. Hehe.. Sampai sekarang seperti masih ada yang tertinggal di Kepulauan Seribu. Rasa belum tuntas. Perjuangan kami (panitia) dan teman-teman IP'07 yang sudah sangat kompak serta niat untuk menyebrang ke Kepulauan Seribu harus terhenti. Bukan sekarang mungkin, masih bisa nanti kita ke sana lagi :)
Next plan ke Pulau Tidung ah, klo kata Teh Erny ke jembatan cinta sambil bawa gebetan. Hahahaahahahaha..

0 ungkapan kawan:

Posting Komentar

Hai kawan-kawan, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan berkomentar di pendopo langit ini ^_^


up