Cintai Indonesia dari Sabang sampai Merauke


Indonesia dari Sabang sampai Merauke (sumber: wikipedia)

 Seberapa besar cinta kamu terhadap budaya lokal di Indonesia?

Jawabannya hanya kamu dan Allah SWT yang tahu (jika tidak diberitahukan kepada orang lain). Efek dari sering nonton Ring of Fire Adventure di Metro TV tiap hari Minggu malam pukul 21.30 rasa merah putih di dada ini terkadang melonjak-lonjak dan meletup-letup tidak karuan. Ada suka, duka, kagum, kabita (tergiur), dan sesekali bilang “Indonesia itu keren, punya segalanya...”. Acara ini pun membuka mata saya semakin lebar bahwa Indonesia bukan hanya Pulau Jawa. Indonesia bagian timur (yang terkadang terlupakan) itu elok, tidak kalah cantik dengan Bali (misalnya). Indonesia bagian tengah pun tidak kalah kaya akan budaya. Begitu pula dengan Indonesia bagian barat. Semakin membuat saya cinta dan bangga menjadi generasi Indonesia, terlepas dari berbagai kemelut mendungnya.

Budaya lokal merupakan kekayaan hasil dari turun temurun nenek moyang kita. Dilihat dari sudut pandang positif bahwa itu bisa dijadikan aset pariwisata yang tidak kalah dengan negara luar sana. Jika mau dirawat, dilestarikan dan diberikan ruang gerak untuk dipromosikan oleh negara, pasti luar biasa asetnya. Dari Sabang sampai Merauke tersebar berbagai macam suku bangsa, macam bahasa, macam kebudayaan, macam tradisi, dan macam peninggalan-peninggalan sejarah dalam bentuk seni, sastra maupun benda.

Pernahkah kamu berkunjung ke museum lokal di daerah kamu?

Ki-Ka (Gie, Irma, Dini, eF) at Museum Sribaduga
Museum Sri Baduga tampak depan
Lagi-lagi jawabannya hanya kamu dan Allah SWT yang tahu (jika kamu memang tidak ingin mengumbarnya). Biasanya harga tiket masuk museum budaya lebih murah bahkan sangat murah dibandingkan harga kita membeli makanan di restoran atau cafe atau tiket masuk wahana bermain yang tersebar di perkotaan. Sekitar tahun 2009 (sudah agak lama juga ya), saya dan barudak Ranger (Dini, eF, Leo, Gie) masih semangat-semangatnya menikmati masa muda kebetulan pada hari itu kami tidak ada jadwal kuliah jadi kami pun berencana untuk berkeliling di kota Bandung. Tujuan awal kita adalah Museum Sribaduga, tempatnya tepat di depan Lapangan Tega Lega (orang Bandung pasti tahu). Mula-mula kami memang ragu untuk masuk ke sana. Biasanya yang kita tahu berkunjung ke museum adalah sebagai kegiatan rombongan dari sekolah. Bukan begitu? Jadi kami agak ragu untuk masuk, ternyata berkunjung ke sana secara personal pun sangat dibolehkan.

Pada waktu itu tiket masuknya cuma Rp. 2000,-/orang sangat murah bukan? Mau seharian di sana sampai museumnya tutup pun boleh. Keren kan? Tapi tahun ini kurang tahu berapa harga tiket masuknya. Memang untuk ukuran museum, sepi adalah hal biasa. Ramai apabila ada kunjungan dari sekolah-sekolah. Kebetulan di sini diperbolehkan membawa kamera dan berfoto-foto. Jadi kami bebas memotret. Selain dapat pengetahuan, kita pun bisa merasakan suasana budaya lokal jaman dahulu khususnya di daerah Jawa Barat seperti apa. Main di museum itu tidak kalah dengan tempat wisata lainnya, murah meriah dan dapat pengetahuan juga. Ayo ramaikan museum-museum yang ada di daerah kalian. Siapa lagi yang akan mencintai kebudayaan bangsa sendiri jika bukan kita?

Seberapa tahukah kamu tentang budaya lokal sendiri?

Hanya kamu dan Allah SWT yang tahu. Saya percaya kalian pasti setidaknya tahu mengenai budaya lokal sendiri. Bahasa daerah, lagu daerah, tarian, baju adat, dan berbagai tradisi yang ada. Setidaknya jangan sampai tidak tahu lagu daerah sendiri, sedangkan lagu K-Pop atau Western Pop sangat tahu (eh bukan nyindir loh... beneran). Karena getih aing, getih Sunda (darah saya, darah Sunda) maka setidaknya saya harus mengetahui adat istiadat dan kebudayaan lokal Jawa Barat. Di sini saya tekankan bahwa mencintai dan mengetahui budaya lokal bukan berarti kita harus bersikap primordial. Primordialisme itu salah satu pematik api ketegangan dan kerusuhan yang sering terjadi di berbagai daerah. Saling merasa daerahnya lebih dibandingkan dengan daerah lain atau merasa suku A lebih dari suku B. Sekali lagi, Bhinneka Tunggal Ika, bermacam-macam tetapi tetap satu jua. Unity in diversity. Setiap suku bangsa memiliki keunikan masing-masing. Seperti slogan Ring of Fire Adventure “We are many, we are one. IndONEsia”.

Saya pun ingin menekankan bahwa budaya pun harus dipilah dan pilih kembali saat harus disandingkan dengan agama. Setiap manusia dewasa pasti sudah tahu mana yang baik dan benar untuk dilakukannya. Cintai dan lestarikan budaya Indonesia sebagai warisan untuk anak cucu.

Sabilulungan
Cipt. Mang Koko
sabilulungan, urang gotong-royong
sabilulungan, urang silih rojong
sabilulungan, genteng ulah potong
sabilulungan, persatuan tembong

Tohaga, rohaka,
rempug jukung ngabasmi pasalingsingan
satia, sajiwa,
rempug jukung ngabasmi pasalingsingan.

10 komentar:

  1. cinta Indonesia gak yaaa?
    hihi :p

    jadi inget kata-katanya Ian di buku 5cm "yang berani nyela Indonesia, ribut sama gue!"

    waw, sy sendiri pun gak yakin bakal berani ngomong ky gitu. tp setidaknya, sy ttp bangga sm keanekaragaman yg bangsa ini punya, sebobrok apapun track recordnya di mata dunia.

    Indonesia, laphyupuuull dah :*

    BalasHapus
  2. Luar biasa teh Irma.. Love it, Indonesia. Bergelora rasa ini, inginku menjelajah negri tercinta. Yang konon, kata sebagian orang luar sana "inilah syurga dunia!"

    BalasHapus
  3. keren . aku cinta indonesia , :) .
    salam kenal .

    BalasHapus
  4. hehehee.. makasi semua :)
    ayo ramaikan museum dan budaya lokal Indonesia ^_^

    BalasHapus
  5. Jadi inget sekarang banyak orang Jawa yang gak ngerti bahasa Jawa..

    BalasHapus
  6. kasian yah.. ga bisa bahasa ibu-nya sendiri :(

    BalasHapus
  7. I love full Indonesia too. Aku bangga jadi anak Indonesia. yeyeyeye :D

    BalasHapus

Hai kawan-kawan, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan berkomentar di pendopo langit ini ^_^


up