Wajah Lain Indonesia

Waslap epribadi?
Tadi siang ada yang liat Bingkai Berita di Trans Tv ga? Kalo ada, kita tos barengan yu! halaaah (-__-")
Jadi tadi siang waktu maen ke rumah bibi kebetulan ikut nonton tv (krn di rumah bete jadi ikut nebeng di rumah bibi buat nonton tv, macam nomaden lah. haha..) Tak sengaja kami nonton acara Bingkai Berita (acara yang patut ditonton dibandingkan sh*tn*tr*n), dan kebetulan sedang membahas tentang cerita satu keluarga yang mengidap buta (tiga bersaudara).

Jadi begini pemirsa ceritanya:
Di Ciawi, Tasikmalaya, ada 3 bersaudara yang buta dari mulai anak sulung, tengah dan bungsu. Alm. ibu dan Alm. bapaknya juga buta. Semuanya sudah berumur tapi ketiganya tidak berkeluarga dan ketiganya adalah laki-laki. Anak sulung sudah mengidap kebutaan baru 6 tahun yang lalu, anak tengah sudah semenjak 36 tahun yang lalu (mungkin dari lahir), dan yang bungsu baru mengidap gejala buta (masih bisa melihat dalam jarak dekat). Ketiganya tinggal di gubuk seadanya, yang sulung semenjak terkena buta tersebut tidak bisa lagi bekerja dengan leluasa.

Sulung
Beliau sehari-hari mencari kayu bakar ke hutan. Bayangkan, ke HUTAN! Orang tidak bisa melihat, mencari kayu bakar ke hutan. Ya Alloh.. Hati ku sedih melihatnya. Beliau saja masih bersemangat untuk bekerja dan bergerak tidak tinggal diam melamun dengan keadaan seperti itu. Karena baru terkena kebutaan 6 tahun yang lalu maka beliau masih ingat betul rute dan kondisi jalan menuju hutan saat mencari kayu. Tapi bayangkan saja, beliau lebih hebat dari Dedy Cobuzier yang membawa mobil dengan mata tertutup keliling-keliling rute di jalan datar. Sedangkan ini, jalan hutan yang setapak banyak hewan liar serta tumbuhan yang ber-julatjalit di sekitarnya. Beliau menangis saat ditanya (entah ditanya apa oleh reporter saya lupa lagi saking sedihnya jadi agak tidak fokus), beliau bilang sedih tidak bisa menghidupi adik-adiknya dengan maksimal karena keterbatasan penglihatannya sekarang, beliau sebagai kepala keluarga karena ibu dan bapak mereka sudah tiada menjadi tumpuan harapan adik-adiknya.

Tengah
Sedangkan anak yang kedua memang sudah lama terkena buta, bayangkan 36 tahun, tidak tahu bagaimana kondisi terangnya dunia. Nah, yang kedua ini tidak bisa beraktivitas jauh dari rumah karena tidak seperti kakak dan adiknya yang tahu kondisi sekitar (secara dari kecil sudah buta). Meskipun begitu dia masih bisa beraktivitas layaknya orang biasa. Misalnya mencukur rambut dengan patokan garis peci pun dia bisa. Sembahyang shalat pun dia tau gerakannya seperti apa. Subhanallah.. Dia tidak berhenti untuk hidup saat dunia terasa gelap baginya :'(

Bungsu
Karena kebutaan yang dialaminya masih belum total, jadi dia masih bisa melihat dengan jarak dekat meskipun rabunnya sudah parah dan melihat jarak jauh sudah remang-remang (bukan warung). Untuk ikut membantu menghidupi kakak-kakaknya dia berjualan cilok (semacam makanan terbuat dari adonan aci yang direbus, jika dipanjangkan arti cilok = aci dicolok 'ditusuk'). Dari mulai belanja bahan-bahan, meracik adonan sampai mendistrbusikannya (berdagang) dia sendiri yang melakukannya. Berjualan cilok dengan memakai tanggungan keliling kampung membuatnya harus bekerja ekstra, karena kondisi kampung yang jalannya terjal harus dia lewati setiap hari dengan jarak penglihatan yang minim. Ini sebuah perjuangan Bung namanya, dia benar-benar pejuang kehidupan sejati (menurut saya). Tidak menyerah hanya karena mempunyai keterbatasan. Melewati hidup tidak mengemis dan meminta-minta hanya karena sedikit buta. Semua dijalani seperti layaknya orang biasa, tanpa diam saja. Allahuakbar! Sungguh mulianya ketangguhan dia ya Rabb..

Mereka tinggal bertiga dan saling membutuhkan satu sama lain. Untuk makan saja mereka memasak sendiri, kebayang mungkin gimana masak dalam kondisi buta. Dan makanan yang mereka makan pun terbatas, katanya biasanya jika tidak ada lauk pauk ya makan dengan garam dan cengek (cabe rawit) saja. Tapi kadang ada tetangga yang berbaik hati untuk memberikan mereka makanan, sengaja berkunjung ke gubuk mereka. Kasihan :'(

Ada bagian yang paling membuat saya sedih sampai menitikkan air mata (bukan lebay). Saat anak kedua yang sudah buta sejak 36 tahun lalu berkata, "pengen liat gunung dari kejauhan, mungkin indah ya pemandangannya". Ibuuuuuu, bapaaaaaaaak :(( (clak, air mata pun menetes). Saya tiap hari bisa liat gunung Manglayang yang tepat berada di daerah atas rumah saya dengan leluasa, selalu lupa mengucap syukur bisa melihat pemandangan itu. Ya Alloh, Alhamdulillah masih bisa diberikan penglihatan, ini hadiah terindah dari Mu setiap hari. Memberikan ku mata yang selalu memandang agungnya ciptaan Mu. Rabbi.. T_T

Di sini juga, pemerintah harus berperan penting. Sebagai calon sarjana Ilmu Pemerintahan saya mau konsen dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan serta kesehatan masyarakat. Tidak ingin menjadi wakil rakyat yang tidak tahu bahwa rakyatnya ada yang seperti ini kondisinya. Mungkin masih banyak kisah-kisah wajah Indonesia yang sebenarnya di luar sana. Semoga pemerintah bisa memberikan pelayanan maksimal khususnya kesehatan bagi masyarakat, tanpa kecuali. Karena semua orang berhak bahagia, berhak sehat, berhak menikmati hidup yang layak seperti yang lainnya. Ini tugas berat bagi saya dan kawan-kawan semua.

Akhir cerita, belajarlah dari orang kecil yang mempunyai keterbatasan tapi berhasil bertahan dalam menjalankan hidupnya. Maka kau akan tahu bagaimana rasa bersyukur dan berjuang. Belajarlah dari orang besar yang mempunyai kelebihan dan berhasil menjalankan hidupnya. Maka kau akan tahu bagaimana rasa kesuksesan. -irdevzan-

*sayang tidak ada dokumentasinya

0 ungkapan kawan:

Poskan Komentar

Hai kawan-kawan, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan berkomentar di pendopo langit ini ^_^


up