Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Galau Damri

Damri, kurang lebih seperti ini wujud usangnya. Sumber
Bismillahirrahmanirrahiim..
"Menghabiskan perjalanan bersama sang kebisuan. Meski derit gesekan besi usang dan riuh rendah penumpang lain ramai bersahutan. Di sini, sepi."
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 5 April kemarin, ketika saya pulang dari Gramedia Merdeka banyak kejadian galau hingga akhirnya saya sebut hari galau damri seumur hidup (lebay). Sekitar pukul 15.30 WIB saya pun mensegerakan untuk pulang. Dari jalan Merdeka sampai Cileunyi memang sangat jauh jaraknya. Pada waktu itu saya hanya ingat kalau pulang harus dapat Damri di Kebon Kalapa. Akhirnya saya naik angkot jurusan Dago - Kalapa sampai di Kebon Kalapa. Meskipun pada akhirnya saya baru ingat kalau ada alternatif jalur angkutan yang lain.

Setelah angkot yang saya tumpangi hampir dekat ke terminal Kebon Kalapa, saya pun siap-siap segera turun, namun lagi-lagi saya lupa kalau dia tidak berhenti di dekat shelter Damri. Alhasil saya pun harus jalan kaki agak jauh untuk sampai di shelter. Tak apa, olah raga, lumayan.

Saat sampai di shelter, ternyata Damri yang siap berangkat itu Damri yang belum diremajakan alias usang. Tak apa, asal selamat sampai tujuan. Akhirnya saya sigap menaiki Damri tersebut. Masih belum penuh penumpang, tapi penuh sampah berceceran di lantainya. Ok, tak apa, nikmati saja Irma. Lalu saya mengambil kursi di baris kedua dekat pintu.

Tak menunggu lama akhirnya sang Damri pun berangkat. Ini Damri memang benar-benar sudah tua, besi-besinya pun sudah usang, karat dimana-mana, suara mesin berderu memekakan telinga. Jangan ditanya bagaimana stir dan dashboard-nya. Sepertinya ini Damri sisa-sisa jaman kolonial. Ongkosnya memang murah hanya Rp. 4000 dari Kebon Kalapa sampai Tanjung Sari. Bagaimana tak menjadi primadona khalayak ramai? Transportasi massal yang melewati 1 kota dan 2 kabupaten ini memang layak diminati. Namun, sudah tak layak pakai! Bagaimana atuh Perum Damri?

Hari itu, kegalauan saya belum berakhir. Sore merupakan waktu untuk terjebak macet di tengah-tengah kota Bandung. Kecepatan Damri yang bisa dihitung dengan jari pun menambah panjang lama perjalanan. Tak apa, toh saya tak sedang ditunggu siapa-siapa. Kalau kata orang Sunda "ditampi kalayan kabingahan". Damri memang transportasi yang tak kalah maruk dalam hal menampung penumpang. Mau duduk, mau dempetan, mau berdiri, mau gelantungan pun asalkan masih bisa masuk, ayo angkut.

Akhirnya, Damri yang sudah terjebak di antara ratusan kendaraan itu pun penuh sesak dengan cepatnya. Riuh rendah para penumpang yang duduk bersama keluarga, sahabat atau tetangganya pun bersahutan bersama suara deru mesin dan rintihan besi tua yang bergesekan. Saya, menikmati perjalanan ini bersama sepi yang terasa (ngeneeeeeees... hahahahaa..). Tak lama kemudian datanglah pengamen, ok tak apa asalkan suaranya bagus, nyanyinya ok, bisa saya nikmati. Tapi dugaan saya salah! Masalah lagu tak saya permasalahkan, namun suara yang disenandungkan benar-benar sudah membuat batas kegalauan saya menjadi beribu kali lipat hingga tak bisa saya pungkiri bahwa saya memang sakit kepala. Nada kemana, suara kemana, lirik kemana, lafalnya kemana. Ngenesnya lagi, dia bernyanyi 4 lagu.

Hari itu, galau damri saya perfecto! Berhasil mengantarkan saya dari jalan Merdeka sampai Cileunyi dengan ditutup sebuah seruan kondektur "Ibu, turun dimana?" Ok, se-ibu-ibu-kah tampang saya? Rasanya ingin langsung lompat dari Damri, kemudian berenang bersama paus antartika. Galau Damri, galau segalau-galaunya. Bagaimana dengan pengalaman menarik kawan blogger jika menggunakan transportasi publik? Share yuk!
Penasaran ->

Momen Berkilau

Ayah dan Anak (ilustrasi kurang lebih seperti ini)
Sumber: Blog UMY
Bismillahirrahmanirrahiim..

Tepat satu bulan yang lalu saat saya pulang dari Rumah Sakit untuk memeriksakan diri ke poliklinik mata. Saya menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke sebuah mini market dekat rumah. Saat saya membuka pintu, tepat di depan kasir ada seorang anak kecil yang menarik penglihatan saya untuk mencuri pandang agak lama. Entah kenapa penampilan anak laki-laki itu menyita langkah saya untuk segera bergegas masuk ke dalam mini market. Umurnya mungkin sekitar 5 tahun, agak kumal, kepalanya plontos, memakai kaos dan memakai rok warna hijau. Iya, anak itu memakai rok, meski dia laki-laki. Itulah sebabnya saya agak mencuri pandang terhadapnya.

Anak kecil itu membawa sebuah es krim di tangannya, dan ternyata dia tidak sendiri. Dia bersama ayahnya. Anak kecil tersebut kemudian digendong oleh sang ayah, sepertinya dia sangat bahagia dengan es krim yang sudah berada dalam genggaman tangannya. Oh iya, penampilan ayahnya pun tak luput dari curi-curi pandang ekor mata saya. Badannya agak kumal juga, bertelanjang dada alias tanpa memakai baju dan hanya memakai celana pendek. Wajah keduanya terlihat bahagia, senyum sederhana tapi itulah bahagia, karena bahagia itu sederhana saja.

Bukan kenapa-kenapa atau "kepo" tapi ada beberapa hal yang membuat saya menjadi termenung lama di balik rak makanan ringan di sana. Setelah dirasa cukup menjadi pencuri pandang akhirnya saya masuk ke lorong makanan ringan.

Kerutan di dahi dan picingan mata yang sedari tadi menggurat di wajah saya berubah menjadi sebuah senyum dan momen bersinar di antara kornea mata. "Subhanallah, itulah cinta..." hanya itu yang bisa saya ucapkan, pelan. Ya, itu cinta, kasih sayang, antara ayah dan anak, antara orang tua dan anak. Anehnya saya jadi teringat ayah dan ibu yang sedang bekerja. Hihihi.. Terharu, itulah yang saya dapatkan dari beberapa menit momen antara anak dan ayah di dalam mini market tersebut.

Saya bisa menduga, bahwa ayah dan anak tersebut mungkin orang yang berkekurangan. Dari penampilannya yang seperti itu awalnya saya mengira mereka adalah tuna wisma, tapi mereka tak meminta-minta loh, buktinya sang ayah membayar es krim tersebut. Memang, dengan penampilan mereka yang tak seperti pada umumnya, orang-orang dapat langsung menduga mereka tuna wisma atau semacamnya. Meski sebenarnya kita tidak tahu dan tak berhak mencap mereka siapa, apa dan bagaimana, bisa jadi apa yang kita duga hanya sebatas pantulan dari mata.

Apapun mereka yang terpenting adalah mereka telah menjadi "guru jalanan" saya hari itu. Mengajarkan bahwa cinta serta kasih sayang antara orang tua dan anak itu nyata, tak berbatas, tanpa syarat, dalam keadaan apapun, dan sangat indah serta menjadi salah satu momen berkilau paling abadi dalam ingatan. Terima kasih atas beberapa detik yang tak akan pernah saya lupakan, memperlihatkan saya tentang kasih sayang sederhana yang luar biasa :)

“Alloohummaghfirlii waliwaalidayya war hamhumaa kama rabbayaanii shagiiraa”.
"Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan dosa kedua ibu bapakku serta kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihaniku sewaktu kecil"

Bagaimana dengan momen berkilau kalian? Pernah melihat dan merasakan kasih sayang orang tua yang sangat megah? Salam untuk kedua orang tua dimana pun mereka berada, salam hormat :)
Penasaran ->

Semalam di Pulau Pramuka

Pulau Pramuka (Ki-Ka: Munir, Irma, Gie, Gigie, Lena, Asti, Fasih)
Bismillahirrahmanirrahiim..

16 Juni 2012

Pulau Pramuka Tampak Samping
Entah kenapa hari ini sedang ingin mengenang perjalanan saya saat bermalam di Pulau Pramuka (ibu kota Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu). Sebenarnya sudah hampir 1,5 tahun cerita itu terbungkam di kepala saya. Eh ternyata di site Bloof sudah saya ceritakan kok, postingannya ada di sini, tapi belum lengkap fotonya. Hahaha.. Sampai saat ini saya belum menemukan jawaban kenapa pulau tersebut dinamakan Pulau Pramuka. Entah kegiatan pramuka awalnya ada di sana, atau entah.
 
Sekitar bulan Desember 2011 lalu, saya bersama teman-teman tim praktikum berencana menemui perwakilan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu untuk membicarakan perizinan dan survey praktikum Pemerintahan di Pulau Pramuka. Kebetulan ada 2 orang alumni jurusan Ilmu Pemerintahan yang bekerja sebagai Pemda di sana. Jadi untuk masalah link, kami tidak menemui kendala.

Benar kata orang, malu bertanya sesat di jalan. Karena kami tidak bertanya terlebih dahulu mengenai kondisi transportasi ke sana maka kami pun sama sekali tidak mempersiapkan pakaian ganti. Kami pikir, mungkin sampai di sana pukul 9 pagi, lalu sekitar 3-4 jam di Pulau Pramuka, semua urusan sudah beres, kita bisa pulang di sore harinya. Ternyata tidak seperti itu sodara-sodara! Kapal penumpang yang hilir mudik hanya beroperasi pukul 7 pagi dan 2 siang (itu pun jika cuaca mendukung). Ternyata pada hari itu semesta meminta kami bermalam di Pulau Pramuka.

Penangkaran Penyu Sisik
Sekitar pukul 7 pagi kami sudah sampai di Marina Ancol. Kami mendapat fasilitas gratis menuju Pulau Pramuka bersama para pegawai Pemda menggunakan speedboat. Itu adalah kali pertama saya naik speedboat di lautan lepas dari pulau ke pulau. Subhanallah.. Hentakannya sedikit membuat pusing, tapi lautan di sisi kami sangat indah. Banyak melewati pulau-pulau tak berpenghuni. Mabuk laut pun lenyap. Sekitar 1 jam kami sudah sampai.

Pelestarian Bakau Bekerja Sama dengan Toyota
Seperti perkiraan kami, 3-4 jam urusan di sana sudah beres. Perizinan, cek penginapan, cek konsumsi, cek transportasi, dan segala tetek bengek untuk praktikum nanti 75% sudah dikondisikan. Untuk menari bersama waktu, kami lakukan dengan berjalan-jalan mengelilingi pulau. Tidak sampai 1 jam kita sudah bisa mengelilinginya. Pulau Pramuka memang berukuran kecil. Kami mengunjungi penangkaran penyu dan bakau yang berada di sudut pulau. Suasananya sangat hening, benar-benar laut tanpa ombak. Penginapan banyak terdapat di pinggir-pinggir pulau.

Snorkling GRATIS di Pulau Pramuka
Sore harinya kami diajak untuk snorkling gratisan (lagi) di depan Pulau Pramuka, meskipun bukan tempat snorkling tapi ini sudah cukup membuat kami bahagia. Menyelam di kedalaman yang tak seberapa, melihat isi laut dari dekat dan tak lupa bertemu bulu babi yang banyak sekali. Untung saja tidak sampai tersengat. Snorkling sampai kedinginan dilanjutkan dengan nongkrong di dermaga cinta depan pulau. Tempat orang-orang menunggu kapal jika pagi dan siang hari.Malam hari berubah fungsi menjadi tempat nongkrong serta sekedar mencari ikan-ikan kecil. Angin lautnya kencang tiada tara. Dingin dan sepi. Hanya ada cahaya-cahaya kecil di kejauhan sana seperti berkerlap kerlip dan itulah cahaya dari pulau lain. Kami akhirnya menginap di mess Pemda GRATIS.

Mengambang di Laut Lepas
Di sana listrik masih memakai tenaga generator. Dari pukul 7 pagi sampai 5 sore listrik padam kecuali di kantor Pemda dan Bupati, pukul 5 sore sampai 7 pagi listrik menyala untuk seluruh warga. Tapi untuk sinyal telepon seluler sangat kencang, karena Pulau Pramuka didaulat sebagai pulau berbasis jaringan internet disponsori oleh Speedy. Suasana di sana sangat panas, jika malam jadi hangat karena ikatan antar-warga sangat erat. Bahkan saya melihat ada beberapa rumah yang ramai, karena mereka menonton tv bersama-sama dengan warga lain (tv di simpan di teras rumah).

Kapal Penumpang
Keesokan harinya kami pulang menggunakan kapal penumpang pukul 7 pagi. Kapalnya benar-benar kayu, ini adalah transportasi utama warga Kepulauan Seribu. Tarifnya Rp. 30.000,- sampai Muara Angke. Kami harus menempuh perjalanan selama hampir 2,5 jam lebih. Duduk beralaskan tikar tanpa pelampung di atap kapal. Amazing sodara-sodara! Kora-kora di Dufan saja kalah. Terombang ambing di laut lepas dengan kecepatan yang tak sedahsyat speedboat tapi cukup membuat saya bahagia sepanjang laut. Bahagia. Pengalaman baru.

Suasana di Atap Kapal
Awal perjalanan dengan kapal penumpang ini membuat saya mual, tapi lama-kelamaan menjadi biasa. Goncangannya itu loh yang membuat isi perut ini ikut bergoyang. Tanpa disediakan pelampung, masyarakat Pulau Pramuka maupun pulau-pulau lainnya yang menggunakan kapal penumpang tiap hari mengarungi lautan lepas dengan tenang. Inilah wajah lain Indonesia ku. Indah sekali. Bagaimana dengan petualangan kalian blogger?

Penasaran ->

Ya, Ini Karang Hawu

Pantai Karang Hawu
Bismillahirrahmanirrahiim..

9 Juni 2012

Sudah satu minggu absen dari menulis dan berkeliaran di blog. Awalnya karena minggu kemarin harus berkunjung dulu ke Pelabuhan Ratu. Sepupu laki-laki yang terpaut lebih muda beberapa bulan umurnya dengan saya akhirnya menikah. Yeaaaay.. Kau mendahului ku. Haha..

Dan perjalanan Bandung - Pelabuhan Ratu rasanya semakin lama. Padahal tidak ada penambahan panjang jalan. Berangkat dari rumah pukul 14.00 WIB sampai ditujuan pukul 21.00 WIB, memang sih kami singgah dulu di rumah makan sekedar istirahat sambil menunaikan shalat. Waktu pun tertebas tujuh jam perjalanan. Meskipun kecepatan mobil sudah sangat maksimal dan nge-drift kanan kiri, jurang tebing sampai mual.

Saya pernah bercerita tentang acara pulang kampung ke Pelabuhan Ratu, di sini. Daerah yang indah tapi pengelolaan pariwisata maupun potensi daerahnya belum maksimal. Pantai maupun laut merupakan suasana yang tidak asing bagi saya dan keluarga. Bapak saya lahir dan besar di perkampungan dekat dengan laut. Tapi bukan di perkampungan nelayan, karena Bapung (sebutan kakek saya) merupakan buruh perkebunan Belanda pada waktu itu.

Perahu Mini
Pelabuhan Ratu memiliki panjang garis pantai yang lumayan membentang. Ada salah satu pantai yang bernama Karang Hawu. Disebut demikian karena ada karang-karang yang berbentuk seperti hawu (kompor tradisional yang terbuat dari tanah liat). Akhirnya kami pun menerabas waktu dengan pergi ke pantai Karang Hawu. Suasananya sepi, hanya sesekali terdengar deburan ombak. Ombak pantai Pelabuhan Ratu terkenal keras. Jadi untuk aktivitas permainan pantai sangat minim, kita dilarang untuk berenang. Kebetulan pada saat itu permukaan air laut sedang pasang juga.
Rujak Pantai, Rp. 5000

Melepas penat duduk-duduk di pinggir pantai enaknya makan seafood kan? Tapi kami malah memesan rujak. Hahaha.. Tak apalah, yang penting menikmati suasana pantai. Dan hari itu saya sengaja memakai kaos Bloof. Hehehehe.. Meskipun impian ingin memakai kaos Bloof sampai Menara Eiffel belum terealisasi, sedikit-sedikit bawa kaos itu ke daerah sekitar Indonesia (alibi). Tapi fotonya tak saya tampangkan di sini, it's little messy :D

Ayo kita main ke pantai. Di daerah kalian ada pantai apa saja? Yuk, share di sini ramai-ramai :)

Beberapa snapshoot yang saya abadikan melalui camera pocket. Ombaknya ganas, kurang cocok untuk surfing, banyak karangnya :)

Tegar seperti karang diterjang ombak
Yeeeaaaayyyy
It's like somewhere over the stone
Ini ni yang namanya karang seperti hawu
Bridge stone
Penasaran ->

Kopdar Bloofers Bandung; Edisi Dago Pakar

Atas Ki-Ka: Kak Andin, Fita, Teh Fitri, Aisa, Irma
Bawah Ki-Ka: Kang Yudhi, Kang Aan, Kang Dia
di Car Free Day Bandung (Sumber: Dok. Kang Dia di Group Bloof FB)


Bismillahirrahmanirrahiim..
Persahabatan itu seperti partikel-partikel yang terhempas ke udara. Ia menari-nari dengan bebas tanpa batas. (irdevzan)
Allah SWT selalu tahu cara indah untuk mempertemukan tiap-tiap manusianya kepada sebuah silaturahim yang sederhana namun erat. Seperti itulah yang saya rasakan selama ini, ketika kenal, bertemu, menyapa, bercengkrama, bahkan melewati hari bersama dengan orang-orang baru. Bukankah itu misteri yang indah?

Tepat hari Minggu, 26 Februari 2012, kami yang menamakan diri sebagai Bloofers Bandung kembali mengadakan sebuah pertemuan. Kopi darat. Ya, blogger biasanya menyebut istilah demikian. Ini adalah kali kedua saya mengikuti kopdar. Sebelumnya kami sepakat untuk berkumpul di CFD, namun saya sempat kelimpungan karena pulsa sempat habis sedangkan saya belum bertemu siapapun di CFD. Seperti anak ayam kehilangan induknya, itulah yang saya rasakan saat itu. Seperi lirik lagu: "Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu (kalian dimana Bloofers Bandung?)" Dewa-Kosong. Konyol. Terduduk sendirian di trotoar jalan, celingak-celinguk mencari orang-orang berkaos sama dengan saya. Akhirnya Kak Andin sms, saya pun bergabung dengan beliau yang sedang melihat pertujukan musik tradisional Sunda. Oh iya, ternyata Kak Andin tidak bisa ikut berkumpul dengan kami di Dago Pakar karena harus merevisi tesisnya. Sukses Kak! Sebagai permohonan maafnya beliau memberi kami brownies. Lezat.

Akhirnya beberapa Bloofers Bandung pun datang, kami pun berangkat menuju Dago Pakar atau Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda dengan memesan angkot ekslusif seharga pesawar kargo. Tiket masuk Tahura adalah Rp. 8500,-. Memasuki Tahura, kami langsung disuguhi oleh pemandangan yang segar. Pepohonan menjulang tinggi bagai di belantara. Kebanyakan pohon pinus, saya tidak tahu lagi species pohon apalagi yang ada di sana. Buat yang suka olahraga sambil menghirup udara bersih, silahkan main ke Tahura. Ternyata di antara pepohonan tinggi itu ada sebuah bangku lengkap dengan kursi yang saling berhadapan. Cukup untuk 8 orang. Pas. Karena kami yang ikut kopdar ada 8 orang yaitu saya, Kang Dia, Kang Aan, Kang Dea, Kang Yudhi, Teh Fitri, Fita dan Aisa.

Duduk diantara pohon pinus di Tahura (Sumber: Flickr Kang Dia)
Di bangku inilah kami melakukan sebuah secret project. Karena ini bersifat rahasia maka saya tidak akan membahasnya lebih jauh. Pokoknya kami hanya menulis lalu makan cemilan kemudian bersenda gurau, berdiskusi lalu berfoto dan bermain gelembung sabun. Setelah beberapa jam berkutat dengan menulis, kami pun memutuskan untuk berkeliling melihat pemandangan di Tahura. Sekalian mencoba memasuki Gua peninggalan sejarah di sana.

Pertama kami berjalan menuju Gua Jepang. Sebelum memasuki gua kami ditawarkan lampu senter oleh para penjaja di sana. Tawaran pemaksaan lebih tepatnya. Sewa lampu senter seharga Rp. 3000,-. Tak apalah, untuk menambah pemasukan beliua-beliau. Memasuki gua yang dingin, gelap, serta jalan bebatuan dan pengap seperti memasuki alam yang berbeda. Berharap saat di dalam tidak bertambah jumlah personilnya. Uka-uka dong. Meski begitu, kami tetap riang gembira layaknya anak TK bertamasya. Memang teman-teman Bloofers ini kocak-kocak, membuat wajah tak lelah tertawa dan tersenyum.

Di dalam Gua Jepang, ada penampakan tidak? >_< (Sumber: Dok. Kang Dia)
Saat keluar dari Gua Jepang kami mendapati Kang Yudy yang menyusul rombongan sedang duduk manis di batu bersama kepulan asap rokoknya. Tak lama kemudian kami pun berjalan kembali menyusuri Tahura. Pemandangan yang kami temukan semakin indah, semakin HUTAN, melihat kedalaman jurang, bertemu seekor monyet dan beberapa kuda tunggang. Perjalanan di Tahura kami akhiri di depan Gua Belanda. Kami tidak masuk, karena hari sudah mendung. Ah langit kali ini tidak bisa diajak kompromi untuk lebih lama menampakkan cerahnya.

Ki-Ka: Kang Dia, Kang Aan, Irma, Aisa, Fita, Teh Fitri, Kang Yudy, Kang Dea, Kang Yudhi)
Sumber: Dok. Kang Dia
Seperti dugaan, langit pun akhirnya menangis. Mengiringi langkah-langkah kecil kami yang terseok-seok menapaki jalan menanjak di antara lebatnya pepohonan. Saya berbagi payung bersama Aisa yang seringkali berkata "Teh, udah, Aisa ga kuat lagi. Berhenti aja dulu di sini". "Aisa, kamu pasti bisa, ayo lanjut jalannya, hujan semakin deras, tidak ada tempat berteduh di sini". Hanya itu yang bisa saya katakan. Berjalan beriringan bersama Aisa di barisan paling belakang dipayungi Miss Elia Kadham (payung kesayangan) sebelum akhirnya kami menemukan warung kecil untuk berteduh. Hujannya lebat, ditambah angin kencang. Ya Rabb, saya sempat ketakutan, kedinginan, dan berpikir bagaimana bisa kami pulang menyusuri jalanan menurun nanti untuk sampai di jalan raya tempat menemukan angkot?

Berteduh di warung karena hujan deras (Sumber: Dok. Pribadi)
Akhirnya dengan ke-nekat-an tinggi, kami kembali menembus hujan dengan pasti. Ini adalah kopdar asyik dan riang gembira yang saya rasakan meski harus basah kuyup. Hujan pun kami lalui dengan tetap tersenyum. Indahnya persahabatan, walau baru beberapa kali bertemu, tapi rasanya bagai sewindu telah beriringan. Terima kasih kawan. Hujan sempat reda, namun kembali melebat. Rasa dingin menimbulkan efek perut keroncongan lebih kencang, akhirnya kami berteduh kembali di sebuah warung yang tutup di jalanan samping pintu masuk Tahura. Kami memesan semangkuk bakso. Makanan apapun rasanya nikmat jika saat lapar, dingin dan basah. Di sana kami sempat merumuskan beberapa program kegiatan yang akan Bloof lakukan, khususnya Bloof Bandung. Alhamdulillah hujan pun agak reda. Diskusi selesai, perut kenyang, lanjut berjalan kaki sampai jalan raya.

Ditutup dengan jajan bakso. Aisa dan akang-akang sedang menikmati bakso :D (Sumber: Dok. Pribadi)
Kegiatan bersama Bloofers Bandung ditutup dengan diskusi (itung-itungan ongkos) di Mesjid Salman, ITB yang sempat mendapat teguran dari petugas di sana. Kelalaian kami sih, setelah adzan Ashar selesai berkumandang kami masih bercengkrama, bukannya langsung bergegas menuju masjid. Ada-ada saja. Hehehe.. Afwan.. Begitulah kira-kira rangkuman perjalanan saya bersama Bloofers Bandung hari itu. Ada pengalaman yang saya tulis di blog, saya simpan di memori yang siap saya ceritakan pada anak cucu kelak. Terima kasih, kalian sudah menjadi pengisi cawan hidup seorang Irma. Dari maya menjadi nyata. Alhamdulillah..
Penasaran ->

Penginapan Mistis Bombastis

Penginapan Suzanna Era '80-an
Bismillah..
Wataw watsap semuanya? Akhirnya bisa menulis lagi. Kemarin-kemarin saya membuka blog hanya untuk menunaikan apa yang sudah diminta oleh Kang Yuday. Membaca postingannya yang sedang mengikuti salah satu kontes di dunia maya ini. Beliau salah satu orang yang suka membantu saya membenahi blog. Memberi pengetahuan lain tentang elemen-elemen blog yang sampai sekarang pun kadang saya masih keblinger untuk memahaminya. Beliau orangnya baik banget klo kita minta bantuan atau sekedar menanyakan beberapa hal mengenai per-blog-an. Beneran deh. Pokoknya top markotop.

Setelah membaca postingan Kang Yuday tentang Voucher Hotel Murah di RajaKamar.com jadi teringat mengenai hal inap menginap waktu saya masih senang berkeliaran antar daerah. Eh, sampai sekarang pun masih senang kok berkeliaran ke beberapa daerah. Program menjelajah Indonesia masih menjadi angan-angan saya setelah lulus kuliah nanti.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang penginapan, entah itu motel, hotel, atau pun penginapan biasa. Saya mempunyai cerita horror mistis bombastis spektakuler dan wedun lah pokoknya. Maaf berlebihan. Hahaha.. Jadi ceritanya begini, awal tahun 2010 kemarin kami satu angkatan beserta dosen mengadakan praktikum ke Kota Banjar. Di sana kami akan mengikuti audiensi bersama Walikota Banjar. Banjar yang saya maksud adalah kota hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis. Mungkin orang Jawa Barat sudah tahu. Seperti biasa kami serombongan setelah berdiskusi ria bersama Bapak Walikota rencananya akan langsung ke tempat istirahat, yaitu penginapan yang ada di Kota Banjar. Antara perempuan dan laki-laki tempat penginapannya terpisah agak jauh. Karena keterbatasan fasilitas yang ada di sana. Maklum, bukan daerah objek wisata yang mempunyai beragam tempat penginapan.

Setelah itu kami pun beranjak ke penginapan masing-masing. Saya saat itu kebetulan menjabat sebagai Koordinator Tim Materi Praktikum Sistem Pemerintahan Desa. Tukang menghubungi dosen, rancang materi praktikum, menghubungi pihak Pemda dan tetek bengek yang berhubungan dengan masalah akademis. Lalu ketua praktikum pun mengamanatkan saya yang berada di bis pertama yang nota bene berisi sebagian besar perempuan. Sang ketua pun berkata, "Ma, perempuan di hotel Mustika ya", "ok siap komandan" saya pun berujar. Asyik, Hotel Mustika cimiiiiwww.. Dalam hati dan pikiran saya terbayang sebuah penginapan yang lumayan lah. Tidak mengharapkan penginapan bintang lima apalagi bintang tujuh (eh itu mah puyer ya, hahaha..). Yang penting nyaman untuk sekedar merabahkan badan yang sudah terombang-ambing jalur Jatinangor-Banjar.

Dan taukah kalian? Apa yang ada dipikiran dan hati saya tersebut salah besar. ZONK!
 
Waktu bus yang kami tumpangi berhenti tepat di depan Hotel Mustika (entah hotel atau motel atau apalah itu namanya, yang pasti bukan bintang 2 sekalipun), kami semua, para mahasiswi sontak berujar pada bapak supir, "Pak, ini tempatnya? Salah mungkin Pak.." dan kami semua agak enggan untuk turun dari bus. Tapi dilihat-lihat di plang nama tempatnya Mustika. Owalaaaaahhhh.. Jadi tempatnya itu klo bisa saya deskripsikan seperti tempat penginapan jaman Suzanna main film horror tentang Bang Bokir itu loh.

Tak ada lobi, tak ada tempat parkir untuk bus. Penjaga penginapannya juga auranya sudah beda. Tampak sering mengamati gerak gerik kami dan menyembunyikan sesuatu serta berkomat kamit entah baca apa. Kaca-kaca dan kayu-kayu kamarnya sudah berdebu, lantainya juga berdebu dan retak-retak, gersang, kamar bawah tidak ada fasilitas AC maupun kipas angin padahal di Banjar itu sangat panas. Tapi di kamar atas tempat saya menginap ada AC tahun Suzanna main film itu. Kamar mandi di kamar saya pun atapnya bolong, air baknya pun kotor, closet tak terurus, pokoknya mencekam. Lampu kamar mandinya pun 5 watt yang kuning itu. Masalah kasur, jangan ditanya, tak terurus sama sekali. Mistis!

Rel Kereta Api di Pinggir Penginapan Mistis
Kamar yang saya tempati kebetulan berdampingan dengan rumah kosong yang sudah separuh bobrok. Kata teman-teman sih di bangunan itu ada tulisan yang lumayan besar bertuliskan "Perjanjian Drakula". Jadi penginapan kami itu berada tepat di tikungan. Klo kata orang-orang disebut sebagai bangunan tusuk sate. Dan berada dekat di bawah jembatan. Tak jauh dari penginapan ini adalah Stasiun Kereta Api di Banjar. Aroma mistisnya sudah tercium oleh beberapa teman yang memang katanya bisa melihat dan merasakan. Tapi karena saya orangnya datar, biasa saja, jadi ga terlalu mengulik hal-hal seperti itu. Yang saya rasakan hanya biasa saja, sebuah tempat yang fasilitas penginapannya seperti kembali ke jaman Suzanna di era '70-an atau 80-an.

Waktu malam menjelang, saya, Dini, dan Leo berada di kamar atas pojok samping rumah kosong itu. Lalu Gie, F, dan Rurry berada di sebelah kamar kami serta langsung berbatasan dengan lorong (gelaaaap banget) tidak merasakan hal-hal aneh. Merasa nyaman-nyaman saja. Tidak ada pikiran aneh-aneh. Bahkan saya sempat terjaga di tepat pukul 12 malam untuk mengambil HP yang sedang di-charge, lalu mendengarkan suara kereta api yang sedang transit di sana. Sampai keesokan harinya kami tidak merasakan apa-apa, malah kami tidur pulas sepulas-pulasnya. Udah dasar tukang tidur mungkin ya, jadi dimana pun itu tempatnya tidur ya tidur.

Tapi, taukah kalian? Saat malam itu ternyata banyak teman perempuan maupun laki-laki (yang sengaja main ke tempat penginapan perempuan) dengan sengaja dan tanpa sengaja memancing para blaemblaem (disensor) keluar menampakkan diri. Ada yang bertemu di bawah jembatan belakang penginapan, ada di antara rel kereta api, ada di jendela kamar atas yang ga boleh kami tempati. Dan ada salah seorang teman yang melihat ada blaemclukcluk di depan kamar saya. Walaaaaahhhhh.. Baru keesokan harinya kami diceritakan oleh mereka tentang kejadian itu. Percaya tidak percaya memang kita harus percaya pada hal-hal ghaib. Tapi jika kita tidak menganggu mereka, ya kita pun tak akan di ganggu kok. Buktinya kami bangun keesokan harinya dengan sumringah dan membuat teman-teman lain keheranan dengan kelakuan kami yang ceria. Hahahahaha.. Meskipun setelah mendengar cerita itu jadi merinding ajojing.

Bagaimana dengan pengalaman kalian?? Oh iya, jangan lupa berkunjung di Voucher Hotel Murah di RajaKamar.com yaaaaaaa.. Pasti pada doyan yang murah-murah kan? Selamat hari Selasa kawan-kawan ;)
Penasaran ->

Bangbarongan: Tradisi Khas Khitanan

Bismillah..
Huwalooooowwww.. Hello fellas :)
Beberapa hari tak berblog ria rasanya seperti ada yang kurang mantep. Sekarang belum bisa menulis yang agak berbobot. Ide masih mengendap di dalam otak. Belum bisa menguap bahkan menebar menjadi tulisan yang indah penuh makna. Semoga saja nanti bisa lebih menebar manfaat dalam tulisan. Ok, sekarang waktunya berbagi cerita yang ringan-ringan saja.

Hayo siapa kawan-kawan pria yang belum khitan? Acungkan tangannya! Ups, tapi saya sekarang bukan mau membahas tentang khitan mengkhitan. Para ahli khitan maupun pria lebih tau mengenai hal itu. Hehehe..

Biasanya klo anak-anak setelah di khitan pasti ada acara perayaan. Entah itu hanya syukuran kecil-kecilan maupun syukuran besar-besaran. Klo di sunda biasanya disebut hajatan khitanan. Di tempat saya tinggal sekarang, yaitu Cileunyi (pada tau ga? klo yang suka liat arus mudik pasti tau, hehe..) punya kebiasaan setelah atau sebelum perayaan hajatan khitanan selalu ada prosesi iring-iringan atau arak-arakan yang disebut Bangbarongan.

Hari Minggu ini kebetulan ada warga yang sedang merayakan hajatan khitanan dan melakukan prosesi Bangbarongan keliling sekitar rumah. Diiringi dengan musik Dogdog (suaranya mirip dengan alunan yang mengeluarkan bunyi "dogdogdogdog..."). Dan ada maskot yang disebut Cocoet yaitu semacam model bebegig (orang-orangan) sawah yang isinya orang didalam karung goni, bentuk dan rupanya menyerupai entahlah apa itu, dan mengeluarkan bunyi-bunyian "cocoeeeet..cocoeeeett". Hahaha.. Semua orang ramai-ramai ikut pawainya. Saya hanya melihat dari lantai 2 rumah ditemani dengan kamera yang sudah siap mengabadikan moment langka ini.

Cocoet, terbuat dari karung goni yang berisi orang, mulutnya suka gerak-gerak minta uang.
Jadi, Bangbarongan itu terdiri dari kompilasi antara kuda lumping, iringan musik Dogdog campur sundaan campur dangdut campur apalah itu, ada Cocoet dan tak lupa diarak oleh beberapa orang laki-laki yang kesurupan yang berjoget kesana kemari tanpa arah. Aksi kesurupan ini disengaja, entah tujuannya untuk apa. Karena alunan musik dogdog pun katanya seperti alunan musik yang membangkitkan aura kesurupan semakin menjadi-jadi. Bisa sampai makan beling, minum air comberan, guling-guling ga jelas di atas aspal, atau nyebur ke kolam ikan pinggir jalan dan kadang juga ngerusak kebun sama sawah orang. Ter-la-lu.. Was-waslah! Was-waslah! :D

Kuda Lumping
Iring-iringan Bangbarongan beserta beberapa orang kesurupan

Mungkin iring-iringan Bangbarongan ini sudah menjadi hiburan rakyat yang sebulan sekali pun belum tentu ada. Jika saat musim khitanan pasti ramai. Bisa sampai lebih dari satu kali Bangbarongan itu berkeliling melewati rumah. Dan itu pun dari grup Bangbarongan yang berbeda-beda. Ayo di tempat kawan-kawan ada gak yang seperti ini? Klo mau tau, mampir-mampir lah ke Cileunyi, nanti saya suguhi Bangbarongan :D

Ini cerita ku, apa cerita mu? :)
Penasaran ->

Menelusuri Jalan Setapak - Edisi Pelabuhan Ratu

Bismillahirrahmanirrahiim..
Malam ini ditemani secangkir kopi mochacinno dan iringan Kecapi Suling membuat saya serasa di-nina bobo-kan. Terlelap dalam lamunan tapi tangan menari-nari di atas keyboard. Jadi teringat suasana alam di kampung halaman ayah, di Pelabuhan Ratu kemarin saat mudik season ke dua. Hehehehe..

Main-main di sungai, meskipun airnya sedang surut dan hampir kering karena musim sudah memasuki kemarau. Padalah ini September, akhiran -ber biasanya kan musim hujan, tapi karena perubahan kondisi cuaca dan alam jadi siklusnya berganti. Sungai dan sawah serta perkebunan karet masih mendominasi di sana. Tapi yang saya kurang betah di sana adalah udaranya yang panas, gerah. Mandi 2 kali itu tidak cukup. Sebentar saja langsung berkeringat.

mapay jalan satapak walungan edisi 1
mapay jalan satapak walungan edisi 2
Tiap kali liat foto ini jadi ingat sebuah petikan lagu:
"Mapay jalan satapak, ngajugjug ka hiji lembur. Henteu karasa capena, sabab aya nu diteang." (Mawar Bodas - Yayan Jatnika)

Pokoknya Yayan Jatnika Bieber daaaaahhh.. Hahahaha.. :r

Oh iya, waktu pulang habis main di sungai malah ketemu yang beginian. Penting tak penting saya jepret dan abadikan. Saya cuma merenung, ini bagaimana cara mandinya ya? Penutupnya mana? Toiletnya dimana? Terus gayungnya mana? Mungkin di kota-kota besar pun gubuk toilet umum seperti ini masih ada. Miris dan sangat kasihan, seharusnya MCK itu layak, bersih, higienis serta tidak terbuka auratnya.

WC UMUM dengan mandi, cuci, kakus gratis tapi begini :(
Fasilitas di sini memang masih banyak yang harus dibenahi. Mulai dari akses jalan ke desa-desa yang masih berbatu. Air, di sini masih memakai air gunung langsung, jadi pagi-pagi airnya dingin sedingin-dinginnya, siang airnya panas, sore airnya anget. Tak usah pakai godok menggodok air. Jadi lumayan hemat gas. Sinyal telepon yang kadang muncul kadang hilang, malah kadang-kadang bisa sepanjang hari tak dapat sinyal. Harus mojok dulu baru dapat sinyal. Dan tak lupa fasilitas MCK yang layak harus benar-benar dibenahi.

Inilah saatnya pemerintah harus benar-benar turun ke desa. Oh please jangan mendekam di kantor saja. Kelilinglah sekali-kali. Lihat apa yang rakyatnya lakukan setiap hari, bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Apa mereka sudah layak penghidupannya? Ini pun menjadi tugas untuk saya di masa depan sebagai calon sarjana Ilmu Pemerintahan. Mengelola masyarakat, melayaninya. Percayalah, masih ada yang berniat baik untuk membenahi negara ini. Tuh kan keluar lagi gaya-gaya jawab ngawur ala kampusnya.

Ini menurut ku, apa menurut mu? ;)
Penasaran ->

(Hampir) Tidak Pulang Kampung - Edisi Ciamis

Macet di Limbangan
Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah masih bisa menulis di blog dan masih diberi kesempatan untuk merasakan indahnya dunia serta hidup yang Allah SWT berikan setiap harinya. Agak lama juga saya vakum dalam menulis lugas di blog. Kebanyakan berkutat di puisi. Entah kenapa, padahal "mungkin aku bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.. ini diriku apa adanya.." (Base Jam - Bukan Pujangga).

Bagaimana dengan suasana mudik kalian? Ramai? Macet? Menyenangkan? Atau malah tidak mudik sama sekali? Hehehe.. Yang penting sudah bersilaturahim dengan sanak saudara, meskipun tidak mempunyai kampung halaman yang jauh dari mata. Saya tiap tahun pasti mudik. Ada dua daerah yang rutin saya kunjungi bersama keluarga. Ciamis dan Sukabumi (Pelabuhan Ratu). Karena kedua darah dari daerah itu mengalir di dalam diri saya. Perpaduan blasteran sunda :D

Pada hari Kamis, 1 September rencananya kami sekeluarga akan melakukan perjalanan mudik malam setelah shalat isya, namun niat itu harus diurungkan karena ada tetangga kami yang memberikan informasi kalo jalur Nagrek sampai Gentong macet parah, sampai 12 km. Ya sudahlah kami benar-benar hampir tidak jadi mudik, dibatalkan. Bayangkan macet atau padat merayap sejauh 12 km itu akan memakan waktu sampai kapan? Daripada bermalam di kendaraan lebih baik kami bermalam di rumah lagi saja. Dan akhirnya keesokan pagi kami sudah memantapkan niat untuk berangkat mudik. Biarlah macet itu mendera, rindu kampung halaman sudah tak terbendung. Ahiw..

Kawan, kalian tahu Ciamis? Pernah dengar daerah Panjalu? Atau objek wisata Situ Lengkong? Orang Priangan Selatan mungkin tahu. Nah di sanalah saya dilahirkan. Tempat sanak saudara dari ibu ada di sana berkumpul. Entah kenapa setiap saya pulang ke Ciamis merasa sangat kerasan dan tidak ingin cepat-cepat pulang. Udaranya, orang-orangnya, sejarahnya, tempat wisatanya, dan semuanya membuat saya selalu rindu untuk kembali. Panjalu itu mempunyai sejarah panjang, di jaman dahulu kala di Priangan Selatan terkenal sebuah kerajaan dengan nama Panjalu. Silahkan baca sejarahnya di sini dan di sini. Di sini terdapat Situ Lengkong yang merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi para peziarah. Malah waktu itu (saya lupa tahun berapa), Gus Dur pernah berkunjung ke sini. Sampai-sampai orang sekampung, sedusun, sekecamatan, se-se-se-se ramai-ramai ke Situ Lengkong.

Karena rumah nenek sangat dekat dengan Situ Lengkong, jadi kalo mau maen ke sana tinggal jalan kaki sekitar 10 menit. Karena kami orang Panjalu jadi tinggal lewat begitu saja tanpa membayar tiket. Hahahaha.. Maaf ya Pak petugas. Selayaknya situ atau danau, di sini ramai perahu yang siap mengantarkan wisatawan sekedar mengelilingi pulau Nusa (yang berada di tengah-tengah situ) atau sekalian mengunjungi makam raja-raja Panjalu di dalam pulau Nusa tersebut. Ada yang menarik saya temukan di desain perahu dayungnya. Dulu yang mendayung perahu bisa 2 orang "nahkoda" dengan 2 dayung, berada di depan dan belakang perahu. Namun sekarang jaman sudah berubah boi, perahu tak usah didayung, cukup dikayuh seperti sepeda. Apaaaaaaa? Ya, dikayuh seperti sepeda. Macam roda-roda perahu bebek lah.
Galeri Situ Lengkong
Situ Lengkong dan Perahu Unik (coba cari keunikannya)
Situ Lengkong

Setelah puas berfoto ria dan sekedar melihat-lihat di Situ Lengkong. Saya dan serdadu kancil (adik dan sepupu) bermain ke alun-alun dan Mesjid Agung Panjalu. Dan di sini juga saya menemukan sesuatu yang menarik. Ada 2 buah seperti katel (wajan) terbujur kaku di depan halaman Mesjid Agung Panjalu. Saya kira itu semacam pot kembang jumbo atau tempat untuk menadah air. Ternyata waktu kami tak sengaja melihat-lihat ada sebuah tulisan terpahat ditepian katel itu. Bertuliskan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1494 52X20

dan katel yang satunya lagi berpahatkan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1330 52X20

Bocah-Bocah Bersama Katel Bersejarah (AvizZ, Upi)
Apa coba itu artinya? Hmmmm.. Apa maksudnya itu buatan Edwin Maw dari Liverpool yang dibuat pada tahun 1330 dan 1494 dengan ukuran diameter 52X20 cm???? Wooooowwwww.. Saya sempat berpikir sangat dalam dan merenung sejenak. Apa ini benda peninggalan sejarah? Kok tergeletak begitu saja (dipatenkan sih letaknya, tapi seperti tak terurus didalamnya banyak pasir dan batu-batu). Dan saya pun langsung mencari tahu di Mang Duleh Google tentang Edwin Maw, tapi saya tak menemukan informasi yang spesifik. Dipastikan sih itu nama orang Inggris. Dan memang seperti apa kata Ibu dan Bibi, bahwa katel itu sudah ada semenjak mereka kecil. Dan selalu dijadikan tempat bermain. Tapi sekarang sih sudah tidak di jadikan mainan. Cuma tak terurus saja, jadi gimana gitu. Waktu dicoba saya ketuk katelnya rasa besinya itu kuat banget, pantesan ga berkarat. Sangat-sangat kuat dan mejik. Saya senang bisa melihat benda bersejarah itu ada di kampung halaman.

Masih banyak benda-benda bersejarah di Panjalu, menarik dan membuat saya terus ingin mempelajari dan mengetahuinya. Ayo kawan-kawan mainlah ke Ciamis, Panjalu. Berperahu ria ke Situ Lengkong, berziarah ke makam raja Panjalu di Pulau Nusa. Pasti kalian tak akan menyesal. Mudik di Ciamis dituntaskan hari Sabtu sore, kami pun kembali ke Bandung, perjalanan ramai lancar tanpa macet lagi di Nagrek :D

Bersambung Mudik Bagian Pelabuhan Ratu...
Penasaran ->

Secuil Cerita dengan Kawan di Jatinangor (Lanjutan Pajamas Party)

Sudah janji mau cerita tentang Pajamas Party bareng temen-temen Balad Ranger di Jatinangor. Dan sekaranglah waktunya saya bercerita. Traraaaaa..

Berawal dari sebuah tag mention di facebook dari seorang teman. Sebutlah nama panggilannya Gie. Dia men-tag saya, Leo dan Dini tentang artikel di yahoo yang membahas Kriteria Pria yang Harus Dipertahankan. Well, menarik sekali. Haha.. Lalu kita saling berkomentar satu sama lain. Tapi komentarnya itu ngalor ngidul. Ga sama sekali menyentuh dari tema tulisan. Mulai dari tentang bubur kacang ijo sampai masokis (agak disensor bahasan ini. hehe..) dengan gaya bahasa khas anak-anak kaskuser. Cluk.. Tiba-tiba saja Gie menyodorkan sebuah ajakan pada saya.
Penasaran ->

Bandel

Bandel, nakal, badung dan berbagai kata yang mengandung arti sama seperti kata-kata tersebut memang dipandang negatif oleh beberapa orang, malah mungkin untuk banyak orang. Dan begitu pun bagi saya.

Namun tidak demikian waktu saya melakukan hal "gila" beberapa minggu yang lalu. Menjadi anak bandel yang membuat saya merasa sangat bahagia.

Mengemudi motor tanpa SIM, tanpa STNK, tanpa helm, tanpa jacket, tanpa alat pelindung lainnya ke jalan raya (utama) rute rumah sampai kampus di Jatinangor. Oh iya, dan tanpa bilang izin dari ibu sama bapak alias sedikit berbohong. Dan itu pertama kalinya saya membawa motor ke jalan raya. Kemudian pertama kalinya menjadi warga negara yang tidak taat aturan rambu-rambu lalu lintas dalam mengemudi roda dua. Alhamdulillah lancar dan tidak ketemu polisi. Hehehehe.. Dan itu rasanya seperti membelah atmosfir berlapis-lapis *semacam kata2 di
iklan*

Mungkin orang lain sudah terbiasa mengemudi kendaraan roda dua dimana pun dan kapan pun. Namun tidak dengan saya. Berbekal tekad dan ajakan sesat dari Aviz, sang adik yang agak nyeleneh pemikirannya, maka saya pun memberanikan diri untuk melakukan kebandelan ini. Bandel yang membuat senang karena saya merasakan ada aura lain saat saya mengalahkan rasa takut membawa motor ke jalan raya yang banyak seliweran truk maupun bus besar. Auranya itu seperti rasa bebas sebebas-bebasnya. Bebas tanpa batas yang hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri.

Sampai kampus, detak jantung ini serasa melayang-layang. Badan menggigil karena terpaan udara yang menerjang saat kebut-kebutan (cuma 40 km/jam sih, hehehe..). It so amazing! Dan saya bahagia, saya bangga (tapi tidak bangga karena bandelnya, melainkan karena bisa melawan rasa takut yang saya pendam selama 4 tahun terakhir ini), saya merasa bebas lepas, bandel sebandel-bandelnya ^_^
Penasaran ->

Quiz Visit Indonesia

Tidak sengaja waktu jalan-jalan di facebook teman menemukan link ini -> http://www.indonesia.travel/quiz/index.php?fuid=1640504474

Itu merupakan site resmi dari quiz Official Website for Indonesia Tourism and Travel Information. Di sini kita hanya harus menjawab 5 pertanyaan setiap harinya (saat kita online di website itu) dan mengajak teman-teman di facebook kita untuk ikut gabung dengan kuis ini.

Tiap pertanyaan diberi petunjuk berupa berita dari site resmi ini. Tiap jawaban benar mendapatkan poin 5. Jadi diakumulasikan kita mendapatkan 25 poin bila menjawab benar setiap harinya. Dan jika poin dari hasil invite teman itu senilai 1 poin saja. Di sana pun dipaparkan aturan lebih jelasnya. Kumpulkan poinnya dan menangkan wisata ke Pulau Komodo 3 hari 2 malam untuk 5 orang pemenang. Hadiah termasuk tiket, akomodasi, dan uang saku.

Menurut saya quiz ini menarik sekali. Ini merupakan salah satu cara mempromosikan pariwisata melalui ajang pemberian pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan di sana pun memang harus kita baca terlebih dahulu beritanya. Setidaknya dengan membaca berita seputar aset alam di Indonesia, kita menjadi tahu, walaupun sedikit. Dan ini menyenangkan.

Untuk orang seperti saya yang memang senang berpetualang dan mencari suasana baru, hal ini menjadi daya tarik tersendiri. Berkunjung ke Pulau Komodo dengan akses gratis. Secara dengan melirik dompet mahasiswa jika ingin berpetualang pasti akan berubah menjadi seorang backpacker. Minimalisasi anggaran. Hehehe.. Meskipun persaingannya juga luas. Tapi tidak ada salahnya kita mencoba ini. Yang saya dapatkan dari ini adalah informasi-informasi yang pada awalnya terpaksa kita baca dan cari tahu untuk menjawab pertanyaan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dipahami terus menerus. Sudah cape tiap hari membaca berita-berita buruk di Indonesia. Sekarang waktunya refresh dengan mengetahui zamrud khatulistiwa itu seperti apa.

Happy Saturday all ^_^
Penasaran ->

Lika-Liku Kora-Kora Di Laut Jawa

Di Pulau Onrust
Yow guys.. Udah lama ga wakcabalaka k kalian. Bercerita tentang hal dari sudut pandang seorang Irma. Mengulas hal tabu menjadi tidak tabu (silet kaliiiiiii).
Ini tentang cerita kemarin, perjalanan rencana praktikum kita ke Kepulauan Seribu (Pulau Pramuka). Saya tidak akan membahas mengenai teknis kegiatan dan proses tersendatnya praktikum ini. Sudahlah.. yang penting kita sudah niat dan sungguh-sungguh untuk praktikum k sana, tapi takdir sudah menentukan lain. Allah SWT yang memutuskan dan kita tidak bisa menyalahkan alam dan siapa pun itu. Susah senang bersama kalian IP'07 terutama kalian balad ranger :)
Gimana rasanya mandi jam setengah satu subuh terus jalan dari Gang Mawar (kostn Dini) sampai ke Pangdam bertiga bareng Dini sama Leo? Amazing kan? mungkin teman-teman IP yang lain pun melakukan hal seperti kami. Tapi ini adalah perjuangan dan dibagian seperti inilah tersimpan kenangan :)
Sampai di Muara Angke yang suasananya seperti Muara Bangke. Hehe.. Mulai agak takut karena air laut sedang pasang, tapi sudahlah lanjutkan saja! Perjuangan belum berakhir. Naik kapal yang lebih bagus dari saat pulang survey dari Pulau Pramuka sebelumnya membuat saya secara pribadi lebih tenang dan rileks. Pikirannya adalah naik kapal kecil yang lumayan waktu itu aja selamat sentausa dan santai apalagi ini, kapalnya lumayan besar, dikasih pelampung juga jadi tenang-tenang saja :D
Beberapa menit awal guncangan kapal terasa seperti biasa, karena seperti pengalaman waktu itu pun guncangan kapal layaknya naik mobil pas lewat polisi tidur. Tapi karena situasi di dalam kapal yang agak panas karena udara dari jendela di tutup dengan alasan air ombak akan masuk k kapal. Mulailah beberapa saat kemudian korban muntah (utah uger) berjatuhan. Yang fantastik itu adalah ketika Dini mojang Subang yang kekuatannya saya tau secara fisik itu mangtap muntah-muntah. Wow.. kaget juga, maaf tidak membantu karena pada saat itu pun rasa mual sudah mulai terasa. Sugesti mungkin y? Karena liat banyak temen-temen muntah-muntah jadi mual. Dan terjangan ombaknya pun keras, bikin hati enyep-enyep. Melebihi kora-kora yang ada di Dufan. 2 tablet antimo sedikit membantu. Alhamdulillah tidak ikut-ikutan tepar juga. Untuk Teh Erny makasi buat lututnya sudah mau saya jadikan pegangan dan sasampaian ketika jalannya kapal sudah mulai seperti kora-kora dan terima kasih juga buat tasnya Adi yang saya pegang, entah kenapa megang tas? Pengaruhnya apa ya? Hahahaha.. Jadi tangan kanan megang lutut orang, yang kiri megang tas orang. Baru nyadar klo itu konyol!
Antimo dan tolak angin pun laris manis. Melihat Leo yang agak tegang tapi mantap duduk di depan saya (agak jauh sih) begitu pun demikian dengan F yang tidur sambil ditutup mukanya dengan sehelai selendeng biru. Yang kurang itu tidak ada Gie, karena dia beda kloter keberangkatan Jemaah. Ampun lah itu mah naik kapal sangat mual dan pusing. Tapi anehnya teman-teman yang duduk dan berdiri di belakang maupun di depan (dekat nahkoda) seperti santai meskipun bergelantungan. Apa karena ada angin ya?? Sugesti lagi. Meskipun pakai pelampung tapi kan gimana klo bener-bener kebalik tu kapal? Apakah sudah diasuransikan keselamatan saya? Klo ketemu hiu bagaimana? Berenang pun tidak bisa, apalagi ini di laut mament. Soalnya feelnya sudah beda, ini laut lagi pasang, kecepatan angin aja sampe 24 knot (melebihi rata-rata bgt), dan ombaknya tinggi. Lahaulawalaquwwataillabillah saja saya mah..
Setengah jam perjalanan menuju Pulau Pramuka pun dihentikan. Kami merapat ke sebuah pulau yaitu Pulau Onrust! Pulau yang dulunya jadi tempat transit keberangkatan Jemaah Haji. Bayangin aja mament orang jaman dulu naek kapal laut buat k Mekkah? Berapa bulan mereka merasakan goncangan ombak? Kita aja yanng setengah jam sudah menggelepar. Hehe.. Beda situasinya kali ya. Selain itu Pulau Onrust bukan pulau yang dihuni oleh banyak penduduk. Yang ada selama mata memandang adalah batu-batu prasasti peninggalan jaman Belanda, karena Pulau ini pun menjadi tempat orang Belanda dulu (klo ga salah ada bentengnya). Oiya, di bagian lain di Pulau ini pun ada makam dari pimpinan DI/TII yang dimakamkan di sana. Tapi karena posisinya dekat laut maka saat pasang seperi itu makamnya terendam air. Mengerikan juga sih.
Hampir 4 jam kami terdampar di Pulau Onrust. Lagu "Rumah Kita-God Bless" jadi soundtrack yang pas ketika itu. "Lebih baik di sini (di darat bukan pulau) rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa. Semuanya ada disini." Tiba-tiba saja merindukan suasana Bandung yang lengkap, tidak seperti di Pulau Onrust yang makan mie rebus pke telor dan air teh hangat aja Rp. 11.000,-. Mahal diongkos distribusi bahan baku dari Jakarta ke Pulaunya sih. Kasian juga ya orang pulau. Cukup sudah jadi Tom Hanks saat di Cast Away-nya. kami ditarik kembali ke Muara Angke dengan beberapa alasan. Rasa hati ingin tetap meneruskan perjalanan sampai Pulau Pramuka, tapi mungkin ini yang terbaik. Ikut komando saja. Hehe.. Sampai sekarang seperti masih ada yang tertinggal di Kepulauan Seribu. Rasa belum tuntas. Perjuangan kami (panitia) dan teman-teman IP'07 yang sudah sangat kompak serta niat untuk menyebrang ke Kepulauan Seribu harus terhenti. Bukan sekarang mungkin, masih bisa nanti kita ke sana lagi :)
Next plan ke Pulau Tidung ah, klo kata Teh Erny ke jembatan cinta sambil bawa gebetan. Hahahaahahahaha..
Penasaran ->

Perbincangan Kursus Bahasa Portugis Kilat antara Irma dan Vicksa dari Brazil.. (hahaha....seriusan)

Iseng-iseng klo ga ada kerjaan dan ga ada yang rame-rame amat di internet, saya sekali-sekali suka buka omegle.com untuk talk to stranger. Klo beruntung bisa dapet temen chat yang baik, pintar dan menyenangkan. Karena ini sistemnya acak dan kita sama sekali saling tidak tau data diri, seems like mIRC tapi lebih global dan sangat acak tersebar di seluruh dunia. Jadi harus hati-hati juga. Orang di barat sana kan kadang ada beberapa yang iseng dan mesum. Ya mesum sekali. Dan itu sangat tidak menyenangkan, jadi berdoalah dahulu untuk mencoba situs ini. Hehehe..

Dan ada hal yang sering tidak menyenangkan adalah jika kita memperkenalkan diri dari Indonesia kadang ada yang suka langsung memaki dengan bahasa Inggris tentunya atau langsung tidak mau melanjutkan chat. Memangnya salah apa kami sebagai bangsa Indonesia? Aneh! Karena beberapa kejadian itu, saya sempat berdiskusi dengan seorang wanita dari Amerika dan menanyakan perihal mengenai Indonesia, dan dia berkata tidak ada yang bermasalah dengan orang-orang Indonesia, hanya beberapa orang saja yang termakan isu.

Beberapa orang baik yang waktu itu sempat chat dengan saya ada dari Skotlandia, Kanada, India, China, Korea, Brazil dan ada beberapa orang yang saya lupa dari mana. Nah, ada hal yang menarik waktu tidak sengaja berchat ria bersama Vicksa, seorang wanita dari Brazil. Dia langsung menawarkan diri untuk mengajarkan saya bahasa Portugis, meskipun kilat namun cukup membuat saya sedikit tersenyum mesam mesem :D

Di bawah ini adalah kutipan percakapan kami tanpa sensor loooooh.. :)
*Stranger=Vicksa; You=Neng Iim

Stranger: Hello

You: hello

Stranger: como estás?
Stranger: how are you?

You: fine, and u?

Stranger: me too thanks
Stranger: where are you from?

You: indonesia
You: you?

Stranger: Brazil
Stranger: how r u???
Stranger: the seaquake was terrible

You: yes...
You: u know indonesia?

Stranger: just on TV, for news of there

You: okey... so you watch the news about the tsunami in Aceh?

Stranger: yeah

You: what the meaning of como estás??

Stranger: how are you

You: ooh.. yes i understand

Stranger: do you want leanr a little of portuguese?
Stranger: learn*

You: yes..
You: absolutly

Stranger: okay
Stranger: Hi = oi
Stranger: hello = olá
Stranger: bye = tchau
Stranger: and = e

You: great.. cool
You: :)

Stranger: cool = legal
Stranger: yes = sim
Stranger: no = não

You: "you are so nice" ?

Stranger: você é muito legal

You: what is the different of ê and é??

Stranger: I = eu
you = você
He = ele
She = ela
It = ela/ela
we = nós
they = eles (male) elas (female)

Stranger: the pronunciation is diferent

You: oooh..
You: yes i know, wow great..
You: :)

Stranger: I am = eu sou / estou
you are = você é / está
he is = ele é / está
she is = ela é / está
it is = ele OR ela é / está
you are = vocês são / estão
we are = nós somos / estamos
they are = eles OR elas são / estão

Stranger: can u understand?

You: little bit
You: hehehe..
You: thank you..
You: você é muito legal

Stranger: thanks
Stranger: thanks = obrigada (to female) obrigado (to male)
Stranger: você está writing?
Stranger: are you writing?
Stranger: write - escrever
Stranger: all the verbs finish with "R"
Stranger: so, you remove the R and put the "NDO"
Stranger: NDO = ING

You: so how do I say thanks to you??? in portuguese
I do not know you were male or female

Stranger: exemple: escrever ------> escrevendo
Stranger: are you girl?

You: yes..

Stranger: so, u need use OBRIGADA

You: okey...
You: obrigada.. :)

Stranger: did u understand the NDO?

You: no..

Stranger: okay: you are learnING
Stranger: você está aprendeNDO
Stranger: learn - aprender
Stranger: u remove the R and put the NDO

You: yeah... I understand now

Stranger: it's the same of ING

You: so if you wear ndo become a verb?

Stranger: become?

You: i mean the word turned into a verb?

Stranger: it's simple: all the verbs in portuguese finish with R. so, is just u remove the R and put the NDO in the end of the word
Stranger: comer - eat
dançar - dance
beber - drink
andar - walk
cantar - sing
Stranger: comeNDO - eatING
dançaNDO - DancING
BebeNDO - drinkING
andaNDO - walkING
cantaNDO - singING

You: okey.. i understand now..
You: great..

Stranger: it's very easy isn't it??

You: yes..
You: :)

Stranger: sim

You: sim?

Stranger: yes = sim
Stranger: I told you
Stranger: so, I need lunch right now....

You: okey..
You: nice to talk to u..

Stranger: same

You: obrigada..

Stranger: do u have e-mail?

You: yes..

Stranger: vicksakua@hotmail
Stranger: add me
Stranger: tchau

You: r u female?

Stranger: sim

You: tchau
You: female too
You: my name is irma

Stranger: I know
Stranger: nice to meet u
Stranger: tchau

You: bye..

Setelah perbincangan ini saya langsung ngakak! Gakgakgak.....
Penasaran ->

Santolo; Ombak dan Kami





Tanggal 25 September kemarin, kami melakukan petualangan lagi. Menuju Santolo, Garut. Sebenarnya rencana ini sudah menjadi wacana kami dari dulu. Namun baru terealisasi sekarang. Dengan kekuatan bulan kami melancarkan niatan ini dan sukses! Setelah mendapat izin dari juragan pameget juga sih. Alhamdulillah ternyata ayah mengizinkan saya pergi jauh tanpa ada tujuan rumah singgah. Tidak seperti tragedi pemboikotan saat akan ke Pangandaran. Saya kan sudah bukan kanak-kanak lagi ya kan? Hehehe..

Dengan menyewa mobil seharga Rp. 275.000/24 jam karena jika menggunakan kendaraan umum akan sangat sulit dan membutuhkan pengeluaran yang ekstra pula. Maka kami memutuskan untuk menyewa mobil Xenia dari sebuah rental. Sebenernya bisa sih minjam mobil babeh juragan tapi pasti akan sangat rewel, secara mobil kesayangan. Hehehe..

Kami -saya, Dini, F, Gie, Leo, Fasih dan Aga- berkumpul di Jatinangor dan berangkat pukul 11.00 WIB, dengan perkiraan waktu tempuh sekitar 5 jam menuju Santolo jadi kami pastikan pukul 16.00 WIB di sana. Dengan formasi Bung Fasih sebagai supir beserta istri (Gie) di samping kemudian di bangku tengah ada Aga beserta istri (Dini) dan nyelepet F sebagai obat nyamuk (hampura ah..) serta di dapur alias bangku belakang ada Irma dan Leo. Bismillahirrahmanirrahiim.. Meluncurlah kami ber-7 dengan riang gembira. Tralala trilili..

Penasaran ->

Petualangan Lembah Cilengkrang

Pose dulu sebelum lelah menerpa
Diam-diam begini juga rasa ingin berpetualang seorang Neng Iim sering membludak. Seperti balon gas yang siap meletus jika terkena panas. Buuuum.. Dan pecahlah. Jauh sih ya perumpamaannya tapi tak apalah yang penting sudah mengerti, bukan begitu bukan?

Awal sering berudar-ider ria (dalam arti positif tentunya) adalah saat semester pertama kuliah. Kalo waktu SMP atau SMA masih pendek langkahnya. Tapi sekarang sudah mulai jauh juga petualangan ini. Dimulai dari Subang, Kuningan, Karawang, Cirebon, Indramayu, dan sekarang ingin menjelajah Garut (semoga bisa dapat tiket izin dari juragan pameget a.k.a ayah)
Hal yang paling indah saat berpetualang adalah kami merasakan adanya kepuasan batin kebebasan. Naik kendaraan umum, menghafal jalan ke suatu daerah, dengan modal minim mencari tempat-tempat indah murah meriah tapi menyenangkan.

Tempat yang menurut saya spektakuler pernah saya kunjungi adalah Lembah Cilengkrang Gunung Ciremai. Perjuangan menuju ke sana sangatlah membutuhkan mental, mental bahwa yakin nanti bisa pulang lagi. Haha..

Awalnya hanya keinginan kami, para wanita muda belia dari Balad Ranger The Baralegh Nangorian, untuk saling berkunjung ke kampung halaman tiap personilnya. Mempererat tali persaudaraan dan mengenal tempat baru. Kali ini saya hanya akan mengulas kembali kenangan liar saat pergi ke Lembah Cilengkrang Gunung Ciremai. Kepergian kami ke sana adalah semata-mata hanya ingin berkunjung ke Kuningan, rumah F. Dan tantangan untuk menjelajah gunung itu pun tak secara sengaja terlontar dari ajakan F. Yo wees weeey mari kemari hayu aj. Tanpa tau medan sebenarnya, kami pun pergi ke sana. Saya, Dini, Gie, F, Tia dan UD (additional adventure) sebagai tour guide.

Banyak kejadian lucu dan gila sepanjang perjalanan ini. Dimulai dengan kostum kami yang tak wajar karena kami hanya memakai kaos UNPAD (kaos waktu awal masuk sebagai MaBa) dan celana training serta memakai sendal jepit. Apa? Mau ke gunung gayanya kayak mau ke sawah (baru nyadar saya, kalo kita memang aneh). Karena ini judulnya ke lembah jadi kami pun turun gunung, bukan naik gunung. Lewat kebun orang kami pun asruk-asrukan menghadang semak belukar, dan turun gunung itu sama sekali tidak indah, karena harus hati-hati takut menggulutuk, you know menggulutuk itu sangat tidak berseni. Hehe..

Baret-baret kaki karena hanya memakai sendal jepit pun terjadi, semak belukarnya ganas dan sangat cunihin untuk menjamah kaki-kaki imut kami. Oiya, saat melewati jalanan kecil yang pinggirnya adalah jurang landai dengan isi pohon-pohon pinus, ada kejadian yang cukup membuat kaget awalnya tapi setelah diingat-ingat terkesan lucu dan konyol. Kebetulan yang berjalan diawal adalah sang guide yaitu UD kemudian disusul oleh Dini, Tia, saya, terus Gie, dan yang terakhir adalah F. Karena jalanan setapaknya sempit maka jalannya pun berduyun-duyun. Ada satu sisi jalan yang agak berlubang, lebih tepatnya semplak (bahasa aneh). Saat UD, Dini, Tia dan saya melewati jalan itu biasa saja, terlintas dibenak saya jika ada yang terperosok bagaimana ya? Setelah ada pikiran seperti itu ada suara jeritan minta tolong dari belakang. Ternyata Gie terperosok. Sontak kami pun kaget dan langsung meraih tangannya. Jurangnya itu landai tapi karena kaget, Gie jadi sangat ketakutan. Yang konyol disini adalah F sebagai orang yang berada dibelakang Gie malah menolong dia dengan memegang kerudungnya (seblek pisan nya babaturan teh, kalahkan megang kerudung ungkul, kuduna kan tangan), saya pun memegang tangan Gie dan bilang "Astagfirullah Gie, kakinya keatasin, Gie!". Eh, kucluk-kucluk Dini dari depan dengan gaya premannya bilang "Ada apa ini? ada apa?" tanpa mencoba menarik Gie malah hanya menonton. Beuh dasar! Tadinya perjalanan tidak akan kami lanjutkan tapi karena kami ini sedikit nyeleneh dan sudah hampir setengah perjalanan maka niat itu pun kami teruskan. Lanjutkan pokokna mah barudak! (kondisi Gie yang sedikit trauma pun kami abaikan)

Ternyata eh ternyata itu jauh sekali. Mendaki gunung, lewati lembah. Pokoknya perjalanan ini adalah perjalanan yang tergila dilakukan oleh Neng Iim pada khususnya. Dan Alhamdulillah tidak ada pemikiran bahwa takut ada macan, beruang atau makhluk-makhluk lainnya. Benar-benar modal nekat dan sedikit makanan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami sampai di Curug Cilengkrang Lembah Cilengkrang Gunung Ciremai. Tempatnya masih sangat jarang dikunjungi, ada sumber air panas dan kebanyakan dikunjungi oleh muda mudi Kuningan sekitarnya. Cie..cieee..
Gaya mu nak! :p
Yang kami lakukan hanya makan-makan nasi yang dibekali dari dari rumah F, lalu berfoto ria mengabadikan gaya masing-masing di curug. Simple but unforgetable. Perjalanan pulang pun tak kalah serunya. Jalanan menanjak dan membuat sesak nafas. Jalan yang dilalui terjal dan berbeda dari track berangkat. Sampai kami pun bersumpah serapah jika sampai keatas akan sujud syukur. Takut kami tidak sampai ke atas karena tenaga sudah terasa terkuras. Dan perjuangan itu pun terlalui sudah. Rasanya seperti mendapat pacar baru yang diidam-idamkan sejak dari kandungan, dan itu rasanya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Pulang ke rumah kami menumpang colt buntung pengangkut pupuk. Hahaha.. sangat benar-benar berpetualang. 5 wanita 1 laki-laki. It's awesome, I think :)

-BERSAMBUNG-
Penasaran ->
↑
up