Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sehelai Daun

Rumput dan Cahaya (photosnap by me)
Bismillahirrahmanirrahiim..

Sudah lama tidak menenggelamkan kata-kata kemudian menghanyutkannya menjadi kalimat di aliran sungai ini. Terkadang diam itu tidak selalu berubah menjadi emas, namun menjelma menjadi batu yang lapuk karena usia. Seperti itulah hasil diam saya selama ini. Terlalu banyak waktu yang terbuang entah menguap menjadi apa. Menyesal? Pasti.

Diiringi alunan melodi piano dari Yiruma – Love Me, saya mencoba menjujurkan diri untuk menulis. Hari ini, di sini. Luapan rasa yang -entah- saya pun tak tahu seperti apa jenis rasa itu, saya biarkan membludak begitu saja. Sesekali diam. Benar kata orang, bernafas di dalam lumpur itu sulit dan sesak, sekarang saya sedang merasakannya. Perlahan tapi pasti, jika saya seperti ini terus, perlahan-lahan saya akan menghancurkan kehidupan saya sedikit demi sedikit. Innalillahi..

Ibu, Bapak...
Terima kasih.
Untuk tiap helai daun harapan yang kalian tumbuhkan pada pohon ini.
Untuk tiap tapak kaki yang kalian jejakkan di jalan ini.
Untuk tiap senyum yang kalian sematkan kemarin, hari ini, besok, dan selamanya.
Untuk tiap doa yang terlantun di sudut sujud kalian.
Untuk tiap sentuhan tangan yang selalu bisa memberi kekuatan.
Untuk tiap kata penyemangat yang mengalun tiada henti.

Ibu, Bapak...
Maaf. Maaf. Maaf.
Untuk tiap daun harapan yang tergugur sebelum waktunya.
Untuk tiap langkah angkuh.
Untuk tiap acuh yang meng-ego.
Untuk tiap dosa hina yang tak tahu malu.
Untuk tiap kesalahan yang mengerdilkan.
Untuk tiap kata menyesakkan dada.

Ibu, Bapak...
Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.
Untuk kehidupan yang kalian bimbing selama ini.
Maaf. Maaf. Maaf.
Untuk sehelai daun harapan yang mengering.

AKU KANGEN NGE-BLOG, KANGEN MERECOKI BLOG KAWAN-KAWAN, KANGEN BLOGNYA DIRECOKI KAWAN-KAWAN JUGA. KANGEN BLOGWALKING :')
Penasaran ->

Ini Nama Ku, Siapa Nama Mu?

Mengukir nama di pasir pantai Pangandaran
Bismillahirrahmanirrahiim..

Berawal dari ketertarikan setelah baca postingan blognya Kak Meutia tentang nama beliau, saya jadi ingin bercerita juga tentang arti nama dan panggilan-panggilan yang selama ini menempel. Oh iya, ternyata postingan tentang nama itu adalah PR berantai dari Om Ridwan yang sudah lama, mungkin sudah kadaluarsa. Meski tidak dapat PR berantai ini, tapi dengan hormat saya minta izin untuk boleh ikut serta.

Nama asli saya di akta kelahiran, KTP, izajah, kartu mahasiswa, kartu tabungan dan berbagai surat resmi lainnya adalah Irma Devi Santika. Di berbagai jejaring sosial pun saya menuliskan nama asli. Terdiri dari 3 kata yang insya Allah ini adalah doa terbaik yang disematkan oleh orang tua sampai akhir hayat nanti.
  • Arti kata Irma menurut bahasa Latin artinya Mulia, sedangkan dalam bahasa Jerman artinya Kuat, selain itu jika dalam bahasa Hungaria (irm, erm) artinya keseluruhan atau semesta.
  • Lalu arti kata Devi dalam bahasa Sansekerta adalah jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna.
  • Kemudian yang terakhir arti kata Santika menurut bahasa Sansekerta adalah yang mendamaikan.
Dulu ketika masih kecil saya sempat agak sedih, karena saya pikir doa itu adalah nama dalam bahasa Arab. Namun setelah beranjak dewasa saya yakin inilah doa orang tua saya meski tanpa unsur bahasa Arab. Bahasa manapun jika mengandung arti baik adalah doa.
Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat.
Keselamatan serta kebahagiaan seorang anak tergantung pada ridho dan doa ayah ibunya.
(salah satunya lewat nama)
Ibu sempat menceritakan bahwa dulu sebelum saya lahir, Bapak sempat mengidamkan anak pertama laki-laki. Bahkan nama untuk anak laki-laki pun sudah beliau persiapkan dan ditulis di sela-sela album foto pernikahan. Evan Pratama. Itulah nama anak laki-laki yang beliau inginkan pada waktu itu. Dulu belum zaman USG, jadi orang tua tidak tahu anaknya lahir berjenis kelamin apa. Ternyata ibu melahirkan seorang anak perempuan, maka nama yang dipersiapkan Bapak pun kandas. Jadilah Irma Devi Santika sampai sekarang ini.

Ada cerita dibalik nama belakang saya. Bukan sebuah marga, bukan juga sebuah titisan. Santika, nama ini ternyata dicetuskan oleh Bapak yang kebetulan orang Sukabumi, Pelabuhan Ratu. Dulu Bupati Kabupaten Sukabumi yang menjabat pada tahun itu adalah Dr. H. Ragam Santika (menjabat 1983-1989). Entah kenapa Bapak saya sangat menyukai Pak Ragam Santika hingga mencatut nama belakang beliau untuk nama saya. Suatu kebetulan pula saya kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan, semoga saja efek nama Santika ini bisa menular menjadikan saya pelayan dan pengayom masyarakat seperti Pak Ragam Santika. Allahumma aamiin..

Tahukah kalian? Saya sudah mendapatkan beberapa orang dekat yang bernama Santika. Teman sekelas SMA dulu bernama Aji Santika (laki-laki), kemudian kakak angkatan di kampus bernama Fitra Santika (laki-laki) dan banyak juga nama Santika yang ternyata itu adalah laki-laki. Ternyata nama Santika banyak dipakai oleh laki-laki. Ada apa ini bapaaaaaaaakkkk ku? Oh tiidaaaakkk :(

Di rumah saya biasa dipanggil Teteh atau Eneng oleh keluarga. Kecuali jika Bapak saya sedang marah pasti memanggil Santika dengan nada tegas. Adik semata wayang saya memanggil Tetoh, entah kenapa sampai saat ini panggilan itu tetap tidak berubah, huruf E kedua menjadi O. Sepupu-sepupu saya terbiasa memanggil Teh Neng, Teteh Eneng, Teh Irma, Neng Irma, Teh Ima, Neng Ma'-ma', Neng Ima.

Waktu zaman SMP saya sempat mendapat nama Rei Kikuya, saduran Jepang yang diberikan oleh sahabat karib. Kadang sampai saat ini saya selalu terkekeh jika mengingat nama panggilan itu. Sahabat dan teman SMA biasa memanggil saya Wa Ima atau Ua Ima, sampai saat ini mereka pun masih memanggil seperti itu. Jika teman-teman kampus memanggil saya dengan sebutan Mair atau Neng Iim (nama yang sama dengan bibi penjual gorengan dekat rumah), ada-ada saja mereka :(

Saya sering menyingkat nama menjadi irdevzan yang biasa dipakai untuk ID atau beberapa akun di dunia maya, ada beberapa orang yang bertanya kenapa tidak irdevsan, kenapa harus pakai Z daripada S? Saya pikir ini hanya sebuah keserasian, legeg na lah. Selain itu pernah juga mempunyai singkatan nama menjadi I Made Santika (Ima De Santika), saya sempat terbahak ketika merangkai nama ini. Jika begini saya bisa jadi orang bali namun berjenis kelamin laki-laki. Oh iya, jika nama saya disingkat dalam huruf awal saja berarti menjadi IDS, dan Mbak Nick sempat merasa bahwa nama saya seperti IDP (itu loh artis yang terhipnotis, halah hehe..)

Terima kasih ibu & bapak telah menyematkan nama indah ini, akan saya jaga hingga terkenang harumnya untuk kalian. Lalu, arti dan julukan nama kalian apa kawan-kawan blogger? :)
Penasaran ->

Cawan Kasih Sayang; Edisi Keluarga


Apa, Ibu, Irma, Aviz (adik semata wayang tercinta)

Larik-Larik Kasih

Pijar-pijar matahari yang tak pernah ingkar.
Menyentuh dunia dalam hangatnya.
Namun kasih kalian melebihi dekap hangat matahari pada dunia.

Anggunya langit luas tanpa batas.
Setia menaungi tapak-tapak bumi tanpa lelah.
Namun pengorbanan kalian melebihi kesetiaan langit pada bumi.

Udara yang ku hela, selalu ada meski tak tampak.
Namun wujud cinta kalian, akan selalu ada, akan selalu tampak.
Nyata dalam rasa.

Ibu, Bapak..
Ribuan juta detik masa telah ku habiskan bersama kalian.
Tak pernah sedetik pun ada rasa sesal.
Mencintai mu, menyayangi mu bagai merangkul matahari, langit dan udara menjadi satu.

irdevzan, 17022012

Bismillahirrahmanirrahiim..
Saya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Alhamdulillah ibu dan bapak masih sehat wal afiat. Sebenarnya saya biasa memanggil Apa bukan Bapak. Ada beberapa postingan yang sudah terlebih dahulu saya tuliskan khusus untuk Apa yaitu di sini dan di sini. Tak lupa saya pun telah menuliskan tentang Ibu pada postingan terdahulu yaitu di sini. Setiap anak pasti akan bilang bahwa bapaknya adalah bapak nomor satu di dunia, begitu pun dengan saya. Tidak ada yang bisa menggeser posisi Apa dengan yang lain. Sampai saat ini peringkat laki-laki ganteng dan sangat saya sayangi nomor 1 adalah Apa. Ibu itu adalah orang pertama yang selalu saya sahut ketika demam di tengah malam, teman dikala menangis, tempat bermanja yang nyaman dan ibu nomor satu di dunia serta wanita peringkat satu yang sangat saya sayangi.
 
5 tahun yang lalu..
Hari itu adalah hari pertama jadwal SPMB, saya mendapatkan tempat ujian di SMA N 2 Bandung di Cihampelas. Jarak dari rumah menuju Cihampelas memang tidak dekat. Tempat tinggal yang berada di Cileunyi mengharuskan saya pergi lebih pagi dibandingkan orang lain. Saat itu kebetulan kendaraan kami sedang mendapatkan service, karena motor pun tidak ada, satu-satunya alat transportasi adalah angkutan umum. Pukul 05.00 WIB setelah shalat subuh dan bersiap-siap, saya pun berangkat menuju tempat SPMB ditemani oleh bapak. Pada saat itu sekitar 4 bulan setelah saya kecelakaan maka Apa dan Ibu agak khawatir dengan kondisi saya jika harus bepergian sendiri.

Bersama Apa saya berjalan kaki dari rumah menuju gang tempat kami biasa naik angkot. Angkutan umum yang kami pakai saat itu adalah Elf jurusan antar kota kemudian dilanjut dengan angkot. Berbekal perasaan tak karuan akan menghadapi ujian saya hanya diam sepanjang perjalanan sambil sesekali memandang Apa dan bergumam di dalam hati "ternyata sesayang inilah Apa terhadap saya, pergi subuh-subuh hanya untuk menemani anaknya ujian. Ya Rabb jaga terus beliau, semoga saya bisa lulus SPMB, kuliah dan menjadi anak kebanggaan beliau, jangan sampai saya lalai dan mengecewakannya"

Ternyata Apa pada saat itu tidak pulang, namun menunggu saya sampai ujian selesai. Bayangkan, betapa lamanya beliau menunggu. Hati ini semakin kembang kempis, Ya Rabb, lagi-lagi saya melihat betapa beliau sangat menyayangi saya. Lelaki yang tanpa banyak kata ini terus menunjukkan dukungannya pada saya agar ujian ini berhasil. Saat perjalanan pulang tiba-tiba Apa bertanya dengan intonasi tegas "bagaimana tadi ujiannya? besok harus lebih semangat, Apa lihat Neng (panggilan di rumah) terlalu tegang, tenang saja pasti bisa, orang lain saja bisa masa Neng tidak. Jangan takut, apa bedanya kita dengan mereka? Apa pengen Neng kuliah S1 terus lanjut pendidikan S2, jika bisa sampai S3. Jika Apa guru, Neng minimal harus jadi dosen." Saya mengangguk dan lantas tersenyum. Alhamdulillah saya lulus di Universitas Negeri dan untuk kedua kalinya saya melihat Apa menangis setelah terakhir kali pada saat Bapung (Kakek, Ayahnya Apa) meninggal.

Irma bersama Apa di ulang tahun ke-1
Oh iya, Apa, maaf Neng tidak jadi seorang dokter seperti apa yang Apa inginkan waktu dulu sekali. Apa pernah bilang jika kamar depan tempat Ibu dan Apa tidur rencananya akan dijadikan tempat praktek jika saya kelak menjadi dokter. Suatu saat nanti saya memang bukan menjadi dokter, namun saya ingin menjadi "dokter" masyarakat. Apa pun pernah bilang "entah, Apa bisa atau tidak melepas anak-anak Apa jauh-jauh setelah kalian menikah nanti.". Dalam hati saya hanya bisa jawab "Pa, meski raga kita berpisah jauh, tapi hati dan kasih sayang tidak akan terpisah, kita terpaut. Dalam badan saya kan ada kromosom yang Apa berikan. Jadi jangan khawatir"

Irma bersama Ibu di ulang tahun ke-2
Terima kasih Ibu, Apa untuk rasa cinta, sayang, doa, pengorbanan, dorongan moril serta semua kasih tanpa syarat yang mengalir tanpa habisnya. Neng sayang Ibu dan Apa kemarin, hari ini, besok dan selamanya.

Ibu selalu bilang "hidup itu perjuangan, tidak ada orang yang terlahir pintar, yang membedakan adalah tingkat ke-ulet-an, ada yang mau berusaha dan tidak, jadi jangan merasa minder, semua bisa menjadi pintar jika berusaha."
Penasaran ->

Pernah Terpuruk dan Akan Selalu Bangkit: Cerita 5 Tahun Lalu

Hope (Sumber: Tumblr)
Bismillahirrahmanirrahiim..
Terima kasih ya Rabb, engkau telah memberikan ku kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Engkau percaya bahwa aku bisa menjalaninya.
Tepat 5 tahun yang lalu, 23 Januari 2007. Pada hari itu saya mendapatkan musibah, terjatuh dari motor ojek yang saya tumpangi ketika pulang dari sekolah. Tanpa luka, tanpa bersimbah darah. Namun saya sempat pingsan dan tidak sadarkan diri. Ternyata kepala saya bagian kanan membentur aspal dengan keras. Kesadaran saya pun timbul tenggelam. Saya langsung dibawa ke rumah sakit oleh bapak tercinta.

Hasil dari CT Scan menunjukkan bahwa pembuluh darah di kepala saya menuju otak mengalami pembengkakan karena benturan keras terhadap benda tumpul sedangkan tidak ada setetes darah pun keluar. Pembengkakan ini akan mengakibatkan otak saya kekurangan darah dan melumpuhkan otak serta jaringan di tubuh, singkat katanya jika tidak cepat-cepat ditangani akan mengalami koma.

Sehabis operasi kepala.
Terbaring di Rumah Sakit Immanuel.
Kamar Magdalena 3A.
5 tahun lalu.
Akhirnya saya harus mendapatkan operasi di kepala bagian kanan dengan 30 jahitan pada tengah malam menjelang sepertiga malam. Lumayan panjang juga rute yang tim dokter operasi di kepala ini. Satu minggu menginap di RS Immanuel kamar Magdalena nomor 3A (masih ingat saya dengan kamar itu, hehe..) Kepala saya pun harus dijadikan style cepak ala tentara. Bayangkan saja, saya waktu itu tidak tahu bagaimana rupa penampilan ini, sampai suatu saat ketika bisa kembali berjalan dan belajar menuju kamar mandi sambil dibopong ibu, kaget bukan main saat berpapasan dengan cermin. Saya pun hanya tersenyum dan bilang "Bu, kepala Teteh kayak Tom Sam Chong..". Ibu hanya memeluk saya. Tidak ada perasaan malu atau pun takut. Pada saat itu yang ada dalam diri saya adalah saya ingin kembali sekolah, ingin kembali belajar, ingin segera UN, ikut SPMB, membuat orang tua bangga dengan cara yang indah.

Semangat ini yang membuat saya bisa bangkit dari musibah kecelakaan. Meskipun selama hampir 4 bulan harus rawat jalan bolak balik rumah sakit, mengkonsumsi obat Xepadergin dan Sanmol sebagai dopping, tidak bisa tidur menghadap ke arah kanan, tidak bisa jingkrak-jingkrak dengan leluasa, trauma naik motor sampai 6 bulan, tidak leluasa saat keramas, selalu phobia dan merasa ketakutan berlebih saat berada di kendaraan ataupun di jalan, terkadang merasa panas tiba-tiba di kepala, ada bunyi-bunyi yang ditimbulkan gesekan rahang dengan tempurung kepala, merasakan seperti adanya loncatan darah dari pembuluh darah di kepala.

Semua itu saya perangi dengan terus berusaha untuk bangkit. Ibu hanya bilang "Hidup itu perjuangan". Kata-kata itulah yang selalu saya ucapkan berulang kali dimana pun, kapan pun. Bapak pun bilang "Jangan ada rasa takut, kamu tidak berbeda". Tidak akan ada ketakutan dalam menjalani semua, karena semua diserahkan pada kuasa Allah SWT.

Ini adalah puisi saya pertama kali saat bisa pulang ke rumah. Mengetes apa otak saya sudah berjalan seperti sedia kala. Hehehe.. Oh iya, saat saya di rumah sakit dokter bedah saya pernah bilang pada bapak bahwa efek dari pembengkakan otak ini dapat membuat saya susah untuk membedakan mana kanan dan kiri. Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa membedakannya kok. Semuanya tetap berjuang ya :)

Di Antara Batas Waktu Sepertiga Malam-Mu

Dalam batas jiwa
Ku terdesak sebuah pilihan
Relung hati terdiam bernaung dalam ilusi
Lirihan sumbang terngiang berdendang dikejauhan
Raga dan takdir ku terjebak dalam separuh hidup maya ku
Antara raga dan jiwa terasa menjauh dibatas waktu 
Dalam batas jiwa
Ku tercipta untuk Mu ya Rabbi…
Engkau curahkan setiap berkah di seluruh nadi ku
Engkau menjaga ku dalam setiap detik dan detak jantung ini
Antara senyum dan tangis ku
Berselaras di batas waktu sepertiga malam Mu
(irdevzan, 070207)
Penasaran ->

Pengalaman Pertama; Pelukan Tak Diduga

Peluk (Sumber: Tumblr)
Bismillah..
Kok orang-orang pada rame bicarain tentang pengalaman pertama ya? Kok? Kok? Koooookkkk? Wah sepertinya saya ketinggalan kereta. Dan ternyata benar saja. Di istananya Mbak Una yang cantik berbata pink ternyata sedang mengadakan giveaway. Kemana aja Irma, kok baru tau sekarang? Entahlah.. Hehehe.. Dan giveawaynya itu adalah menceritakan tentang Pengalaman Pertama.

Ok, mengingat judulnya beraroma romantika anak muda, tolong buat yang berharap akan menemukan cerita romantis sejagat maya ini hentikan lamunan anda! Hehehe.. Karena bukan itu yang akan saya ceritakan kali ini. Mari kita mulai.

Bulan Ramadhan beberapa tahun silam. Kira-kira waktu saya berumur 8 tahun, jaman anak ingusan kelas 3 SD di tahun 1997. Ibu dengan bersemangat kesana kemari mempersiapkan segala macam makanan maupun perabotan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri yang kian mendekat. Namanya juga ibu-ibu pasti tidak jauh-jauh dari berbelanja. Saya masih ingat pada waktu itu hari Minggu. Di Minggu cerah ceria, ibu sudah bergegas untuk pergi ke Pasar Ujung Berung. Ini adalah pasar terdekat yang lumayan lengkap pada tahun itu. Biasanya beliau tidak pernah mengajak saya pergi ke pasar untuk menemaninya, tapi kali ini ibu menawarkan ajakannya untuk pergi ke pasar. Dan tidak seperti biasanya pula saya menerima ajakan ini dengan mudah. Pasar? Siapa takut. Hehehe..

Keadaan cuaca pada saat itu teramat cerah. Ibu dan saya mulai menyusuri lorong-lorong di luar pasar yang dipadati oleh pedagang kaki lima. Ocehan-ocehan para pedagang mulai membuat saya tidak nyaman. Maklum bukan tipe orang yang suka dengan keramaian. Tangan ibu memegang erat tangan saya. Mungkin takut anaknya di culik preman pasar. Tapi mana ada juga yang mau menculik? Hahaha.. Namun pegangan ibu mulai merenggang, merenggang, dan akhirnya terlepas. Ya sudah saya berjalan di belakang ibu dengan santai. Jalanan sangat padat, jadi kami tak bisa berjalan berdampingan.

Namanya juga anak kecil, sekali ketemu penjual mainan pasti meliriknya lama, malah saya tongkrongin dulu di depan lapaknya. Kepincut sama mainan alat memasak yang dari plastik. Lama-lama jarak antara saya dan ibu pun menjauh. Asalnya hanya sejengkal, kemudian sedepa, lalu menjadi beberapa centimeter jauhnya. Tetap saja saya santai meskipun agak jauh dari ibu. Rongrongan para pedagang kaki lima sudah terbiasa di telinga saya kali itu.

Ibu mana ya? Kok tidak keliatan? Akhirnya saya mulai panik, lalu berlari-lari kecil mencari beliau. Celingak-celinguk. Menengok depan, belakang, kanan dan kiri. Aaahhh.. Ada. Ternyata ketemu, saya melihat punggung belakangnya. Tenang. Namun saya tidak lantas menghampirinya, masih ada jarak yang saya anggap tenang untuk bisa tetap melihat beliau dari mata saya.

Sedang asik-asik jalan pelan-pelan ternyata...

HOOOOOPPPPP.. BRUUUUUGGGG.. (saya sulit menggambarkan gerakan dan suaranya di sini, hahaha.. maaf..)

Ada seseorang yang memeluk saya dari belakang, pelukannya erat sekali. Beberapa detik saya masih kaget dan tidak berkutik. Bayangkan saja adegan pelukan dari belakang seperti menangkap maling. Mungkin bisa disebut dengan didekap. Ternyata eh ternyata ada ORANG GILA yang memeluk saya dari belakang sambil cengengesan dan entah dia berkata apa. Sontak saya pun berteriak memanggil-manggil Ibu. Ibuuuuuuuuuuuuuuuu tooooooloooooonggggg..

Pedagang yang berada di sekitar sana pun langsung menarik saya dari pelukan orang gila itu. Saya tidak tahu adegan apa lagi yang terjadi dengan cepat pada waktu itu, yang saya ingat, saya sempat menoleh ke arahnya. Wajah, badan dan bajunya sangat lusuh, kumal dan memang bertampang orang gila. Jantung saya langsung berdetak kencang, rasanya seperti sudah mendapat perlakuan tak senonoh. Tiiidaaaaaaaaak..

Entah bagaimana keadaan di tempat perkara terjadi, pada detik itu saya tidak peduli. Saya pun lari menuju ibu yang sedang celingukan mencari suara saya yang meminta tolong. Ibu ada orang gila, meluk Irma bu.. Takut.. Adu saya pada ibu sambil menangis sesenggukkan. Dimana? Kata ibu juga jangan lepas dari ibu. Sekarang kita cari piring lucu aja yuk.. Ibu langsung mengelus kepala dan memegang tangan saya lalu menggiring ke dalam pasar.

Apaaaaaaaaaaahhhh???? Cuma itu saja respon ibu? Ibu kira saya berbohong? Kenapa tidak langsung mengajak saya pulang, kenapa malah membawa saya masuk ke dalam pasar? Kenapa dunia ini begitu menyeramkan untuk anak berusia 8 tahun yang mendapatkan pelukan pertamanya dari lawan jenis, gila pula. Jika mental saya tidak kuat mungkin saya sudah kena ayan dan jantungan di tempat kejadian. Alhamdulillah Allah SWT membuat saya menjadi wanita kuat meski harus membuat saya trauma untuk ikut lagi ke pasar. Baru mau ke pasar lagi saat saya SMP.

Itulah pengalaman pertama saya mendapatkan pelukan tak diduga dari orang yang tak diduga pula. Tapi semoga ini bukan yang pertama, tapi jadi yang terakhir di peluk orang gila. Ini cerita saya, apa cerita mu?

Artikel ini diikutsertakan dalam
Penasaran ->

Gumpalan Masa Lalu

Ku buka album biru. Penuh debu dan usang.
Ku pandangi semua gambar diri. Putih kecil belum ternoda.
Pikir ku pun melayang. Dahulu penuh kasih.
Teringat semua cerita orang. Tentang riwaya ku.
(Melly Goeslaw - Bunda)
Bismillah..
Alhamdulillah bisa menulis kembali hari ini. Tadi malam tak sengaja buka-buka album foto masa kecil. Jadi mengawang-ngawang ke angkasa, melewati ruang waktu, dan kembali ke masa itu. Oh iya, kawan-kawan masih punya foto waktu kecil? Mungkin saat bayi, balita, waktu pertama kali sekolah atau foto-foto bersama orang-orang di masa lalu kalian, yang mungkin sekarang sudah tiada. Tepatnya kali ini saya ingin berbagi sedikit kenangan masa lalu. Hehehe..

Dengan mengandalkan scanner, akhirnya saya bisa menyimpan foto-foto ini dalam format .jpeg, dulu mana ada bentuk foto dalam file, yang ada juga dalam klise, harus dicuci cetak dulu. Tapi kualitas fotonya memang tak diragukan. Sudah 22 tahun masih bagus dan layak dilihat meskipun aura masa lalunya kental.

Lembaran demi lembaran album foto ini saya buka perlahan-lahan. Senyum-senyum sendiri, kadang cekikikan, tertawa terbahak-bahak melihat gaya waktu kecil, lalu saya pun merasa ada kesedihan yang tersayat di hati, tidak dalam memang tapi jelas. Sedih karena sebuah rindu. Rindu mereka yang pernah mengisi cawan hidup saya di masa lalu dan sekarang beliau-beliau sudah tiada.

Irma di masa kecil, so' begaya gitu ya :D
Irma digendong Bibi, tu Ibu lg ngintip. Depan rumah nenek-kakek jaman dulu.
Lembaran pertama, ada foto waktu saya berumur satu tahun sedang memegang boneka hadiah dari paman dan ayah. Entah kemana dua boneka itu sekarang, kalau tidak salah sampai saya TK masih ada boneka itu. Senyum-senyum sendiri lah jadinya, gaya anak umur 1 tahun sudah berlagak kayak orang dewasa. Hehehe.. Merasa bukan diri saya, kok beda ya wajahnya? Hahaha.. Metamorfosis..

Kemudian saya buka kembali lembaran-lembaran masa lalu itu. Ada beberapa foto saya waktu berulang tahun, tepat 1 tahun. Di bagian ini kegembiraan bercampur dengan kesedihan terasa menelusup relung hati. Jadi waktu 1 tahun saya masih tinggal di Ciamis bersama nenek kakek dan ibu, sedangkan ayah tinggal di Bandung. Long distance gitu deh. Ternyata mereka menyiapkan perayaan ulang tahun saya dengan meriah walau sederhana, yang datang pun anak-anak kecil sekitar. Alhamdulillah waktu itu ayah bisa menyempatkan diri untuk merayakan ulang tahun saya.

Irma bersama kado-kado. Baru nyadar pipinya gembil banget :D
Irma bersama Ayah di depan kue ulang tahun. Ternayat ayah saya kayak Caca Handika. Hahaha..
Irma bersama Ibu dan Alm. Uyut. Ternyata kuenya pke nama :D
Di bagian ini, saya kembali merasakan rindu yang bergejolak saat melihat suasana rumah nenek kakek di Ciamis sebelum direnovasi seperti sekarang. Hafal betul saya sudut-sudut di sana. Ahhhh, tak terasa air mata pun menetes. Rumah semi bilik yang pernah saya tempati selama 3 tahun saat kecil ini memang menyisakkan berjuta-juta kenangan yang tak akan luput oleh waktu. Ada wajah ibu dan ayah waktu dulu, ada foto Alm. Uyut (Buyut) yang sangat terlihat senang dan beberapa orang di masa itu. Mungkin saya akan selalu merindukan kalian, bahkan bukan mungkin, tapi pasti akan sangat merindu..

Bagaimana dengan kalian? Apakah masih ada foto-foto masa lalu? Memori yang disimpan dalam lembaran persegi panjang. Ayo share di sini. Selamat hari Jum'at full barokah :)
Life is traveled only once, today's moment becomes tomorrow's memory, enjoy every moment of life whether good or bad, because the gift of life is life itself.
~ Edna St. Vincent Millay
Penasaran ->

Menelusuri Jalan Setapak - Edisi Pelabuhan Ratu

Bismillahirrahmanirrahiim..
Malam ini ditemani secangkir kopi mochacinno dan iringan Kecapi Suling membuat saya serasa di-nina bobo-kan. Terlelap dalam lamunan tapi tangan menari-nari di atas keyboard. Jadi teringat suasana alam di kampung halaman ayah, di Pelabuhan Ratu kemarin saat mudik season ke dua. Hehehehe..

Main-main di sungai, meskipun airnya sedang surut dan hampir kering karena musim sudah memasuki kemarau. Padalah ini September, akhiran -ber biasanya kan musim hujan, tapi karena perubahan kondisi cuaca dan alam jadi siklusnya berganti. Sungai dan sawah serta perkebunan karet masih mendominasi di sana. Tapi yang saya kurang betah di sana adalah udaranya yang panas, gerah. Mandi 2 kali itu tidak cukup. Sebentar saja langsung berkeringat.

mapay jalan satapak walungan edisi 1
mapay jalan satapak walungan edisi 2
Tiap kali liat foto ini jadi ingat sebuah petikan lagu:
"Mapay jalan satapak, ngajugjug ka hiji lembur. Henteu karasa capena, sabab aya nu diteang." (Mawar Bodas - Yayan Jatnika)

Pokoknya Yayan Jatnika Bieber daaaaahhh.. Hahahaha.. :r

Oh iya, waktu pulang habis main di sungai malah ketemu yang beginian. Penting tak penting saya jepret dan abadikan. Saya cuma merenung, ini bagaimana cara mandinya ya? Penutupnya mana? Toiletnya dimana? Terus gayungnya mana? Mungkin di kota-kota besar pun gubuk toilet umum seperti ini masih ada. Miris dan sangat kasihan, seharusnya MCK itu layak, bersih, higienis serta tidak terbuka auratnya.

WC UMUM dengan mandi, cuci, kakus gratis tapi begini :(
Fasilitas di sini memang masih banyak yang harus dibenahi. Mulai dari akses jalan ke desa-desa yang masih berbatu. Air, di sini masih memakai air gunung langsung, jadi pagi-pagi airnya dingin sedingin-dinginnya, siang airnya panas, sore airnya anget. Tak usah pakai godok menggodok air. Jadi lumayan hemat gas. Sinyal telepon yang kadang muncul kadang hilang, malah kadang-kadang bisa sepanjang hari tak dapat sinyal. Harus mojok dulu baru dapat sinyal. Dan tak lupa fasilitas MCK yang layak harus benar-benar dibenahi.

Inilah saatnya pemerintah harus benar-benar turun ke desa. Oh please jangan mendekam di kantor saja. Kelilinglah sekali-kali. Lihat apa yang rakyatnya lakukan setiap hari, bagaimana keadaan mereka sebenarnya. Apa mereka sudah layak penghidupannya? Ini pun menjadi tugas untuk saya di masa depan sebagai calon sarjana Ilmu Pemerintahan. Mengelola masyarakat, melayaninya. Percayalah, masih ada yang berniat baik untuk membenahi negara ini. Tuh kan keluar lagi gaya-gaya jawab ngawur ala kampusnya.

Ini menurut ku, apa menurut mu? ;)
Penasaran ->

(Hampir) Tidak Pulang Kampung - Edisi Ciamis

Macet di Limbangan
Bismillahirrahmanirrahim..
Alhamdulillah masih bisa menulis di blog dan masih diberi kesempatan untuk merasakan indahnya dunia serta hidup yang Allah SWT berikan setiap harinya. Agak lama juga saya vakum dalam menulis lugas di blog. Kebanyakan berkutat di puisi. Entah kenapa, padahal "mungkin aku bukan pujangga, yang pandai merangkai kata.. ini diriku apa adanya.." (Base Jam - Bukan Pujangga).

Bagaimana dengan suasana mudik kalian? Ramai? Macet? Menyenangkan? Atau malah tidak mudik sama sekali? Hehehe.. Yang penting sudah bersilaturahim dengan sanak saudara, meskipun tidak mempunyai kampung halaman yang jauh dari mata. Saya tiap tahun pasti mudik. Ada dua daerah yang rutin saya kunjungi bersama keluarga. Ciamis dan Sukabumi (Pelabuhan Ratu). Karena kedua darah dari daerah itu mengalir di dalam diri saya. Perpaduan blasteran sunda :D

Pada hari Kamis, 1 September rencananya kami sekeluarga akan melakukan perjalanan mudik malam setelah shalat isya, namun niat itu harus diurungkan karena ada tetangga kami yang memberikan informasi kalo jalur Nagrek sampai Gentong macet parah, sampai 12 km. Ya sudahlah kami benar-benar hampir tidak jadi mudik, dibatalkan. Bayangkan macet atau padat merayap sejauh 12 km itu akan memakan waktu sampai kapan? Daripada bermalam di kendaraan lebih baik kami bermalam di rumah lagi saja. Dan akhirnya keesokan pagi kami sudah memantapkan niat untuk berangkat mudik. Biarlah macet itu mendera, rindu kampung halaman sudah tak terbendung. Ahiw..

Kawan, kalian tahu Ciamis? Pernah dengar daerah Panjalu? Atau objek wisata Situ Lengkong? Orang Priangan Selatan mungkin tahu. Nah di sanalah saya dilahirkan. Tempat sanak saudara dari ibu ada di sana berkumpul. Entah kenapa setiap saya pulang ke Ciamis merasa sangat kerasan dan tidak ingin cepat-cepat pulang. Udaranya, orang-orangnya, sejarahnya, tempat wisatanya, dan semuanya membuat saya selalu rindu untuk kembali. Panjalu itu mempunyai sejarah panjang, di jaman dahulu kala di Priangan Selatan terkenal sebuah kerajaan dengan nama Panjalu. Silahkan baca sejarahnya di sini dan di sini. Di sini terdapat Situ Lengkong yang merupakan tempat wisata yang ramai dikunjungi para peziarah. Malah waktu itu (saya lupa tahun berapa), Gus Dur pernah berkunjung ke sini. Sampai-sampai orang sekampung, sedusun, sekecamatan, se-se-se-se ramai-ramai ke Situ Lengkong.

Karena rumah nenek sangat dekat dengan Situ Lengkong, jadi kalo mau maen ke sana tinggal jalan kaki sekitar 10 menit. Karena kami orang Panjalu jadi tinggal lewat begitu saja tanpa membayar tiket. Hahahaha.. Maaf ya Pak petugas. Selayaknya situ atau danau, di sini ramai perahu yang siap mengantarkan wisatawan sekedar mengelilingi pulau Nusa (yang berada di tengah-tengah situ) atau sekalian mengunjungi makam raja-raja Panjalu di dalam pulau Nusa tersebut. Ada yang menarik saya temukan di desain perahu dayungnya. Dulu yang mendayung perahu bisa 2 orang "nahkoda" dengan 2 dayung, berada di depan dan belakang perahu. Namun sekarang jaman sudah berubah boi, perahu tak usah didayung, cukup dikayuh seperti sepeda. Apaaaaaaa? Ya, dikayuh seperti sepeda. Macam roda-roda perahu bebek lah.
Galeri Situ Lengkong
Situ Lengkong dan Perahu Unik (coba cari keunikannya)
Situ Lengkong

Setelah puas berfoto ria dan sekedar melihat-lihat di Situ Lengkong. Saya dan serdadu kancil (adik dan sepupu) bermain ke alun-alun dan Mesjid Agung Panjalu. Dan di sini juga saya menemukan sesuatu yang menarik. Ada 2 buah seperti katel (wajan) terbujur kaku di depan halaman Mesjid Agung Panjalu. Saya kira itu semacam pot kembang jumbo atau tempat untuk menadah air. Ternyata waktu kami tak sengaja melihat-lihat ada sebuah tulisan terpahat ditepian katel itu. Bertuliskan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1494 52X20

dan katel yang satunya lagi berpahatkan:
EDWIN MAW LIVERPOOL
1330 52X20

Bocah-Bocah Bersama Katel Bersejarah (AvizZ, Upi)
Apa coba itu artinya? Hmmmm.. Apa maksudnya itu buatan Edwin Maw dari Liverpool yang dibuat pada tahun 1330 dan 1494 dengan ukuran diameter 52X20 cm???? Wooooowwwww.. Saya sempat berpikir sangat dalam dan merenung sejenak. Apa ini benda peninggalan sejarah? Kok tergeletak begitu saja (dipatenkan sih letaknya, tapi seperti tak terurus didalamnya banyak pasir dan batu-batu). Dan saya pun langsung mencari tahu di Mang Duleh Google tentang Edwin Maw, tapi saya tak menemukan informasi yang spesifik. Dipastikan sih itu nama orang Inggris. Dan memang seperti apa kata Ibu dan Bibi, bahwa katel itu sudah ada semenjak mereka kecil. Dan selalu dijadikan tempat bermain. Tapi sekarang sih sudah tidak di jadikan mainan. Cuma tak terurus saja, jadi gimana gitu. Waktu dicoba saya ketuk katelnya rasa besinya itu kuat banget, pantesan ga berkarat. Sangat-sangat kuat dan mejik. Saya senang bisa melihat benda bersejarah itu ada di kampung halaman.

Masih banyak benda-benda bersejarah di Panjalu, menarik dan membuat saya terus ingin mempelajari dan mengetahuinya. Ayo kawan-kawan mainlah ke Ciamis, Panjalu. Berperahu ria ke Situ Lengkong, berziarah ke makam raja Panjalu di Pulau Nusa. Pasti kalian tak akan menyesal. Mudik di Ciamis dituntaskan hari Sabtu sore, kami pun kembali ke Bandung, perjalanan ramai lancar tanpa macet lagi di Nagrek :D

Bersambung Mudik Bagian Pelabuhan Ratu...
Penasaran ->

Aku dan Ibu Ku

Mother know what the best for me :)
Dari beberapa post yang saya tulis di blog ini belum ada yang sama sekali menyinggung tentang Ibu. Entah kenapa baru terpikirkan sekarang bahwa hal itu terasa janggal. Cerita tentang Bapak, Aviz, dan sahabat-sahabat Balad Ranger juga ada. Kok tentang Ibu belum ada ya?
milkysmile

Padahal cerita mengenai Ibu itu perjalanannya panjang, apa karna sekian lamanya saya bersama Ibu dengan berbagai keluh kesah yang saya bagi serta sedikit upaya untuk membuat beliau senyum jutaan kali jadi membuat saya lupa jika keistimewaan itu tidak perlu dituliskan di sini, hanya dinikmati dan disyukuri saja sudah cukup :)

Penasaran ->

Raul Termos Bukan Raul Lemos

Beberapa waktu yang lalu, adek saya, AvizZ diajak Bapak untuk memotong rambutnya. Karena sudah terlihat gondrong dan tidak rapi, jadi terkesan tidak karuan serta semrawut gaya rambutnya. Kan anak sekolahan harus rapi dong. Tidak boleh melebihi batas kerah, tidak boleh menutupi telinga, tidak boleh menghalangi bla bla dan bla.

Pergilah mereka, ayah dan anak itu ke barber shop alias tukang cukur alias salon alias salon pirgo (dipipir bari cingogo) *hahahaha.. becanda*

Kronologis proses pemotongan kepala, eh rambut maksudnya, itu tidak saya ketahui. Hanya Allah SWT, Aviz dan tukang cukur yang tahu.. Jreng, jreng, ckres, ckres, tong potong tong potong,ngeeeeek,ngeeeeeeek (suara pemotong rumput)..

Pulang lah dia ke rumah membawa berita kepada keluarga mengenai gaya rambutnya yang baru. Tanpa diketahui oleh siapa pun bagaimana itu kepala bentuknya sekarang.

Masuklah dia ke kamar saya, ngobrol-ngobrol seperti biasa dengan posisi duduk saya menghadap netbook dan Aviz berada di belakang, sehingga saya tidak secara langsung menatap dia. Lumayan lama kita ngobrol, tanpa sadar bahwa dia telah bergaya baru. "Teh, Aviz tos dipotong rambut da" celetuknya. "Ooooh.." saya hanya berkata demikian tanpa menghiraukan dia yang berada tepat di belakang saya. Toh kalo dipotong pun pasti gaya rambutnya ya begitu-begitu aja. Model rambut laki-laki mana ada yang super wow dibandingkan dengan model rambut wanita. Hehehe.. Kemudia dia mendekati saya yang masih menatap layar netbook dengan serius. "Teh tingali Aviz, jadi kieu" saya pun menoleh untuk sekedar memastikan apa yang dia suruh. Dan tanpa disadari saya pun langsung bilang "wooooh.. woooh.. woooh.. woooooo.." (saya harap anda bisa menggambarkan bagaimana saya menyebutkan kata-kata itu). Tawa pun berderai-derai, membahana dan terbahak-bahak. HAHAHAHA.. (jika kata anak jaman sekarang mah menyebutnya dengan kata wkwkwkwkwkw)

Gilo cing, dan saya pun refleks bilang "hormaaaaat graaaaak" :))

Jadi tatanan rambutnya itu cepak tentara gitu lah, itu gaya rambut yang tidak pernah adik saya pakai. Jika cepak pun pasti cepak pelontos biasa aja. Malah jahatnya seorang Irma waktu pertama kali melihat gaya rambut itu hal yang terpikirkan adalah "wedun, adik saya jiga mister tukul" hehehehe.. :p

Tapi, tahu kah anda? dia sangat menyenangi gaya rambut itu. Kata dia, gaya ini yang dia idam-idamkan. Bapak pun tidak tahu menahu jika anaknya meminta gaya rambut seperti demikian (inilah akibatnya jika seorang Ayah hanya menunggu di luar sambil jajan saat anaknya dipotong rambut). Memangnya kamu mau jadi tentara, nak? Bagus lah klo begitu mah. Cuma, waktu dia ke sekolah, teman-temannya rata-rata berkata "Ada Raul Lemos, ada Raul Lemos". What???? Raul Lemos? Eh, Raul Termos deh. Iya juga sih, dengan postur tubuh tinggi agak besar dan rambut cekap gitu pasti orang-orang langsung ingat pada Raul yang memang pada detik itu sedang gembar gembor ada di infoteinment. Kira-kira lebih mirip Mister Tukul atau Rawul Clemot ya? Lagi-lagi hanya Allah SWT, AvizZ dan tukang cukur yang tahu mirip siapa :D

Kata orang-orang NO PICT=HOAX, maka akan saya tampilkan penampakannya. Penampakan Raul Termos =))


tampang sebelum tragedi cepak ---> tampang setelah tragedi nista itu
Penasaran ->

Gara-Gara Game Download

Saya punya saudara laki-laki satu-satunya. Namanya panggilannya Aviz. Sebagai keluarga yang sukses menerapkan Program Pemerintah yaitu KB dengan jargon "2 Anak Cukup" merupakan keasyikan tersendiri. Kenapa tidak? Mempunyai adik laki-laki pada awalnya membuat saya senang, karena tidak ada saingan anak perempuan di rumah, namun ada sedikit kekacauan juga, maklum namanya adik kakak pasti ada hal-hal yang membuat kami untuk berselisih pendapat, bertengkar seperti anak kecil dan saling rebutan yang tidak penting. Tapi adik saya ini sangat teopebegetelah.. Seringkali kami berdiskusi tentang kehidupan dan ilmu. No one like you brother.. ;-*

Adik saya itu bisa dibilang orang yang nyeleneh, usil dan kadang suka bikin pengen ngeplak. Hahaha.. Just kidding brother..

Suatu hari, waktu semester awal kuliah, kebetulan adik saya masih kelas 6 SD. Karena kami terpaut 6 tahun perbedaan usianya. Di siang hari yang terik pada saat itu, saya sedang asyik memainkan HP baru. Gile cing, seneng banget waktu itu secara HP Nokia N-70 yang canggih pada zamannya itu. Dengan adanya front camera buat video call. Sekali lagi saya katakan bahwa HP canggih pada zamannya.. Sekarang udah terkategori buluk dan udah terlindih sama gadget-gadget yang betebaran menawarkan OS masing-masing.

Karena adik saya itu usil dan rasa ingin tahunya sangat besar melebihi rasa-rasa yang lain. Diambillah HP si gua yang canggih pada zamannya itu. Otak atik otak atik.. Ga tau diapain tu HP. Pencet sana pencet sini. Dan terjadilah perbincangan seperti ini:

G: Gueh
A: Aviz

A: Teh, ada game dari T*lkoms*l ni tinggal download aja..
G: wah mana? (sambil melongo liat layar HP, krn kegaptekan si gua jadi di-iya-kan aja tu ajakan si Aviz)
A: ini Teh game Adventure of Winnie The Pooh
G: bagus.. bagus.. mungkin kayak petualangan gtu ya? semacam The Sims mungkin ya? Ok, ok, keren.. Gimana downloadnya? (kata si gua polos)
A: gini Teh caranya, masuk dulu k sini, terus download terus gini, bla..bla..bla.. (sambil mempraktekkan caranya)
G: wah mahal ga?? bayar berapa tu?
A: bayar biaya GPRSnya aja Teh, paling beberapa Kilo Byte..
G: ok, (dan gua nurut aja)

Beberapa menit kemudian.. Beres sudah transaksi download game dari provider itu. Langung menuju TKP buat liat game Adventure itu kyk apa. Ga sabar pngn maen juga. Mungkin kyk petualangan keren gitu kali ya (menurut bayangan seorang Irma yang awam ini). Masuk k game.. dan jengejeeeeeeeeeeeeeeeeeeng.. maenannya cuma winni the pooh sama piglet lagi maen cungklak cungkeding semacam maenan di TK yang pke sebilah kayu dengan penyangga di tengah, jadi ada masing-masing orang di ujung2nya yang duduk, cara maeninnya gilingan naik turun gitu. (semoga kalian mengerti) :D

Apaaaaaaaaaaaaaaah? cuman gitu doang? winni the pooh sama piglet maen cungklak cungkeding terus ambilin balon giliran? Itu yang dinamakan adventure? ituuuuuuuuuuu? Plak..
Ngerasa ga puas sama gamenya si gua diem aja, dan cek berapa pulsa yang disedot buat download game itu. Biaya GPRSnya sih cuman 87kb alias:
87 kb x Rp 5 = 435 rupiah
ya ga begitu mahal.. tapiiiiiiiiiiiiiiiiii..
pas saya cek berapa sisa pulsanya ternyata tinggal 256 perak aja.. Loh kok? loh kok? loh kok???
dari pulsa sebanyak 20rbuanlah..
jadi tu game seharga 18.500 wow.. cuma game gitu doang?
langsung aja melirik si aviz.. jitak juga tu bocah.. gara-gara hasutan dia dan provider itu pulsa si gua kesedot begitu aja buat game yang cocok bagi balita. pulsa Rp. 19.000 pada zaman itu sangat berharga, secara sms aja Rp. 350..

Karena keusilan Aviz pada hari itu buang-buang pulsa buat membahagiakan provider tersebut.. Hanjakal mah teu ti awal.. Keun we jadi carita jang jaman kiwari. Iya ga?
:D
Penasaran ->

Bapak Ku Orang Kampung

Bapak saya bukan Jendral, bukan Pejabat, bukan salah satu orang penting yang ada di Indonesia. Bapak saya guru, yang dulu lahir di kampung bernama desa Cikakak, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Desa pelosok, mayoritas pekerjaannya adalah buruh di perkebunan karet milik Belanda (jaman dulu masih ada Belanda loh). Tapi sayangnya saya bangga banget punya bapak model kayak gini meskipun dari kampung. Bangga dan sayang. Hehe..

Saya belajar tentang ketangguhan dan tekad dari bapak. Belajar untuk berjuang di kehidupan yang keras ini juga dari bapak. Belajar menaruh mimpi dan harapan setinggi mungkin juga dari bapak. Belajar berusaha menjadi yang terbaik dan mendekati sempurna, namun memang yang terbaik itu hanya sebuah ungkapan kata, karena pada akhirnya yang terbaik itu adalah milik Yang Esa, Allah SWT. Tapi juga, tidak ada salahnya berusaha dan memotivasi diri untuk melukis yang terbaik, yang penting kan usahanya :)

Bapak saya keras dalam mendidik anak, frontal dalam berpendapat dan sangat menyakitkan jika disindir oleh beliau. Tapi dari sana saya pun belajar mengenai ketangguhan hati.

Bapak saya, orang kampung yang dulu klo bersekolah itu jalan kaki puluhan kilometer melewati sungai bersama 3 orang temannya. Bayangkan anak SD, klo jaman sekarang mana mau mereka spt itu, kecuali di kampung-kampung pelosok memang masih ada yang spt itu juga. Beruntunglah wahai anak-anak yang telah merasakan nikmat dan mudahnya sekolah. Dan pada masa itu beliau sudah bekerja di perkebunan karet pada umur 7 tahun. Bukan Baim, bukan Joshua, bukan Marshanda yang bekerja di usia muda tapi bergelimang harta. Bukan..

Tapi bapak punya tekad dan cita-cita ingin bersekolah tinggi. Suatu ketika, kata beliau, pernah bilang ke Emak (nenek si guah, dan ibunya bapak guah. hehe..) "Mak, De mah hayang sakola teh nepi nu luhur", Ema pun hanya bilang "Enya, ku Ema didungakeun sing luhur sakola na, heug rek dimana ge". Ternyata doa itu diijabah oleh Allah SWT, sampai akhirnya bapak saya bisa kuliah di Bandung, bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi. Dan perjuangan untuk pergi dari Pelabuhan Ratu ke Bandung itu tidak mudah. Tapi dengan tekad, niat dan doa orang tua apalagi doa seorang ibu itu sangat manjur dan mantap menjadi pintu gerbang kesuksesan dunia dan akhirat. Aaamiiin.. Semoga saja :)

Oiya, kata Bapak saya, cerita Laskar Pelangi itu hanya sebagian kecil seperti penggalan hidupnya saat kecil :')

Beruntungnya saya memiliki Bapak hebat seperti beliau. Apakah kalian juga sangat bangga terhadap bapak kalian? Saya harap demikian..
Penasaran ->

Ayah ku, Orang Bijak ku

Kalau ada acara yang sekiranya rame kami selalu nonton bersama-sama satu keluarga. Kebetulan sekarang sedang demam Piala Duni 2010, jadi kami menyempatkan waktu untuk bersama-sama melihat tiap-tiap pertandingan. Meskipun bukan tim yang kami dukung namun untuk sebuah kebersamaan kami selalu menyempatkan diri nonton bersama.

Di sela-sela akhir pertandingan Piala Dunia antara Belanda vs Denmark dengan hasil 2:0 untuk Belanda diperlihatkanlah ekspresi tiap pelatih dari masing-masing negara tersebut. Pelatih Belanda dengan ekspresi kesenangannya loncat-loncat kegirangan dan di sisi lain terlihat pelatih Denmark dengan raut muka yang sedih serta murung. Terlihat di sini bahwa ada kebahagiaan dan ada kekecewaan.

Saat itu Ayah langsung bilang bahwa "Kemenangan seseorang adalah kekalahan orang lain". Jleb, eta pisan Irma. Makna na dalem pisan. Ga usah cari orang bijak ke Yunani, ga usah cari kata-kata bijak di kamus-kamus dan situs-situs. Ternyata orang bijak itu sangat dekat, yaitu Ayah ku.

Panjang kata itu tak seberapa, sederhana sekali malah. Namun maknanya sangatlah dalam. Dan ini membuat saya mengerti tentang hidup. Bahwa hidup itu selalu ada 2 macam. Antara sukses dan tidak sukses. Antara sedih dan senang.

Membuat saya ikhlas dalam menjalani semua hal. Karena di saat kita mendapat "kemenangan" akan ada orang yang mendapat "kekalahan".

Semangat menjalani hidup, karena pada akhirnya sebenarnya kita dekat dengan kemenangan jika kita mau berusaha. Tidak ada yang mudah, tapi tidak ada yang tidak mungkin.

-Keep fighting (^_^)v
Penasaran ->
↑
up